Ibnu Qoyyim Al Jauziyah : “Apakah Ruh Orang yang Hidup Bisa Bertemu dengan
Ruh Orang yang Sudah Wafat?
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menulis dalam kitabnya yang berjudul “Ar
Ruh”, pada bab “Apakah Ruh Orang yang Hidup Bisa Bertemu dengan Ruh Orang
yang Sudah Wafat? :
Bukti dan penguat dari pertanyaan ini terlalu banyak untuk dihitung dan
hanya Allohlah yang tahu jumlahnya. Apa yang dirasakan, dilihat dan kenyataan
merupakan bukti yang paling akurat tentang hat ini. Roh orang-orang yang masih
hidup dan roh orang-orang yang sudah meninggal bisa saling bertemu, sebagaimana
roh di antara orang-orang yang hidup juga bisa saling bertemu. Alloh befirman,
"Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang
tetah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasaan Alloh bagi kaum yang berpikir." (Az-Zumar: 42).
Abu Abdullah bin Mandah menyebutkan, dari
Ibnu Abbas, dia
berkata berkaitan dengan ayat ini,
"Aku mendengar kabar bahwa roh
orang-orang yang hidup dan yang sudah meninggal dapat saling bertemu kala
tidur, lalu mereka saling bertanya. Kemudian Alloh menahan roh orang yang sudah
meninggal dan mengembalikan roh orang-orang yang masih hidup ke jasadnya."
Ibnu Abi Hatim menyebutkan di dalam tafsirnya, dari As-Saddi, tentang firman
Alloh,
"Orang yang belum mati di waktu tidurnya",
bahwa Alloh memegang roh di dalam tidurnya itu, lalu roh orang yang hidup itu
bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal, lalu mereka saling mengingat dan
saling mengenal. Kemudian roh orang yang hidup kembali ke jasadnya di dunia
hingga sampai ajalnya, dan roh orang yang sudah meninggal ingin kembali ke
jasadnya, tapi ia ditahan."
Inilah salah satu dari dua pendapat tentang ayat ini, bahwa yang ditahan
adalah roh orang yang sudah meninggal, dan yang dikembalikan adalah roh yang
ditahan karena sedang tidur. Artinya, Alloh menahan roh orang yang sudah
meninggal dan tidak mengembalikan ke jasadnya kecuali setelah datangnya hari
kiamat, dan roh orang yang tidur ditahan lalu dikembalikan lagi ke jasadnya
sampai ajal yang telah ditentukan, lalu roh ini akan ditahan ketika dia
meninggal.
Pendapat kedua tentang ayat ini, bahwa yang ditahan dan yang dikembalikan
dalam ayat ini adalah roh orang hidup saat tidurnya. Ajal orang yang sudah
berakhir seperti yang ditetapkan, maka Alloh menahan roh itu di sisi-Nya dan
tidak mengembalikannya ke jasadnya. Sedangkan orang yang ajalnya belum sampai
waktu yang ditentukan, Dia mengembalikannya ke jasadnya, sampai ajal yang
ditetapkan itu tiba.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah memilih pendapat yang kedua ini, dan dia
berkata, "Begitulah yang ditunjukkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Alloh
menyebutkan penahanan roh yang telah ditetapkan untuk menahannya karena sedang
tidur. Sedangkan roh yang ditahan-Nya ketika ia meninggal, tidak disifati dengan
menahan atau mengembalikan, tapi itu merupakan bentuk ketiga."
Namun yang lebih kuat adalah pendapat pertama. Sebab Alloh
mengabarkan dua macam penahanan roh, yaitu:
Penahanan besar yang
disebut penahanan roh karena meninggal, dan
penahanan kecil
karena tidur.
Jadi roh bisa dibagi menjadi dua macam:
- Satu macam roh yang ditetapkan kematiannya, lalu ia ditahan di sisi Alloh,
yaitu penahanan karena kematian.
- Satu macam roh yang mempunyai sisa hidup hingga waktu yang telah
ditentukan, yang dikembalikan ke jasadnya hingga berakhirnya sisa waktu yang
telah ditentukan itu.
Alloh menjadikan penahanan dan pengembalian sebagai dua hukum bagi jiwa yang
dipegang seperti yang disebutkan dalam ayat itu. Yang ini ditahan dan yang itu
dikembalikan. Alloh mengabarkan bahwa jiwa yang belum meninggal adalah yang
ditahan-Nya ketika ia tidur. Kalau memang memegang jiwa orang yang tidur itu
ada dua macam: Memegang jiwa yang meninggal dan memegang jiwa yang tidur,
tentunya Alloh tidak mengatakan, "Orang yang belum mati di waktu tidurnya".
Artinya, semenjak jiwa itu dipegang, berarti ia meninggal. Sementara
Alloh mengabarkan bahwa jiwa itu belum mati. Lalu bagaimana mungkin Alloh juga
menyatakan setelah itu, "Maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia
tetapkan kematiannya"
Bagi orang yang sependapat dengan hal ini dapat mengatakan, "Firman
Alloh
'Maka Dia tahan jiwa orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya',
setelah Alloh memegangnya saat tidur. Yang pertama Alloh memegangnya saat
tidur, kemudian menetapkan kematiannya setelah itu. Yang pasti, ayat ini
mengandung dua macam penahanan jiwa atau roh, penahanan saat tidur dan
penahanan saat mati. Yang satu tetap ditahan di sisi-Nya dan yang lain
dikembalikan lagi ke jasadnya. Sebagaimana yang sudah diketahui, Alloh menahan
setiap jiwa yang mati, baik yang mati pada saat tidur atau yang mati pada saat
terjaga. Namun Dia mengembalikan jiwa orang yang memang belum mati. Firman-Nya,
"Alloh memegang jiwa (orang) ketika mati-nya", bisa berarti mati pada
saat tidur dan bisa berarti mati pada saat terjaga.
Pertemuan antara roh orang-orang yang hidup dengan roh orang-orang yang
sudah meninggal menunjukkan bahwa orang yang hidup bisa melihat orang yang
sudah meninggal pada waktu tidur (mimpi), sehingga orang yang hidup bisa
mencari kabar dari orang yang sudah meninggal, dan orang yang sudah
meninggal bisa mengabarkan apa yang tidak diketahui orang yang hidup, sehingga
kabar itu pun menjadi singkron. Roh orang yang sudah meninggal itu juga bisa
mengabarkan apa yang sudah lampau dan yang mendatang. Bahkan boleh jadi ia
mengabarkan harta yang pernah dipendamnya di tempat tertentu yang tidak
diketahui siapa pun selain dia, atau boleh jadi dia mengabarkan hutang yang
belum dilunasinya, lalu ia menyebutkan bukti dan saksi-saksinya.
Yang lebih jauh dari gambaran itu semua, bahwa roh orang yang sudah
meninggal bisa mengabarkan suatu amalan yang tidak pernah diketahui siapapun.
Yang lebih hebat lagi, ia bisa mengabarkan kepada orang yang hidup, Engkau
pernah menemui kami pada waktu ini dan itu", dan memang begitulah
kenyataannya. Boleh jadi roh itu mengabarkan beberapa urusan yang .memberikan
kepastian kepada orang yang hidup, karena memang tak seorangpun yang
mengetahuinya. Telah kami sampaikan kisah Ash-Sha'b bin Jutsamah yang sudah
meninggal dunia, dan perkataannya kepada Auf bin Malik. Begitu pula kisah
Tsabit bin Qais bin Syammas dan beberapa pengabaran yang disampaikannya kepada
orang yang mimpi bertemu dengannya, berkaitan dengan baju besinya dan hutang
yang belum dilunasinya
Atsar Mimpi Para Salafus Shalih Bertemu Sahabatnya yang Telah Wafat
Dalam Mimpi
Hal serupa terjadi pada kisah Shadaqah bin Sulaiman Al-Ja'fari,
pengabaran-pengabaran anaknya kepadanya tentang apa yang dilakukannya setelah
dia meninggal dunia, begitu kisah Syabib bin Syaibah dan perkataan ibunya
setelah dia meninggal, "Semoga Alloh memberikan balasan kebaikan
kepadamu", karena dia telah menalqini ibunya dengan kaliamt
La
ilaha illaIlah ketika meninggalnya, begitu pula kisah Al-Fadhl bin
Al-Muwaffiq beserta anaknya dan pengabaran-pengabarannya bahwa dia mengetahui
kedatangannya.
Sa'id bin Al-Musayyab berkata, "Abdullah bin Salam bertemu dengan
Salman Al-Farisy. Masing-masing berkata kepada yang lain, "Jika engkau
meninggal lebih dahulu daripada aku, maka temuilah aku dan kabarkanlah kepadaku
apa yang engkau dapatkan dari
Rabb-mu, dan jika aku mati lebih dahulu
daripada dirimu, maka aku akan menemuinya dan mengabarkan hal serupa
kepadamu."
"Apakah orang yang sudah meninggal dapat bertemu dengan orang yang
masih hidup?" tanya yang lain.
"Benar. Roh mereka ada di surga dan pergi menurut kehendaknya,"
jawabnya.
Sa'id menuturkan, "Maka setelah Fulan meninggal dunia, dia menemui
temannya dalam tidur, seraya berkata, `TawakAlloh engkau dan terimalah kabar
gembira, karena aku tidak melihat suatu balasan seperti balasan karena
tawakal.".
Al-Abbas bin Abdul-Muththalib berkata,
"Aku
benar-benar ingin bertemu Umar dalam mimpi. Sebab terakhir aku bertemu
dengannya hampir setahun yang lalu. Maka
ketika aku benar-benar bermimpi bertemu dengannya, dan dia sedang mengusap
keringat di dahinya, dia berkata, "Inilah waktu kosongku. Hampir saja
tempat semayamku berguncang, kalau tidak karena aku bertemu orang yang penuh
belas kasih".
Ketika Syuraih bin Abid Ats-Tsamali hampir mendekati ajal, Ghidhaif bin Al-Harits
masuk ke dalam rumahnya dengan sikap yang amat serius, seraya berkata,
"Wahai Abul-Hajjaj, jika engkau bisa menemui kami setelah engkau meninggal
dunia lalu engkau mengabarkan apa yang engkau lihat, maka lakukanlah."
Setelah Syuraih merunggal dunia sekian lama, barulah Ghudhaif mimpi bertemu
dengannya. Ghudhaif bertanya, "Bukankah engkau benar-benar telah
meninggal?"
"Begitulah," jawab Syuraih.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Ghudhaif.
"Rabb kami mengampuni dosa-dosa kami, dan tidak ada yang mendapat
kecuali Al-Ahradh," jawab Syuraih.
"Siapa yang dimaksudkan Al-Ahradh itu?" tanya Ghudhaif.
"Orang-orang yang dituding dengan jari orang banyak karena
sesuatu," Syuraih.
Abdullah bin Umar bin Abdul-Aziz berkata, "Aku mimpi bertemu ayahku
beberapa lama ayah meninggal dunia, yang seakan-akan dia sedang di sebuah
taman. Ayah menyodoriku beberapa buah, yang kutakwili sebagai anak. Aku
bertanya, "Apa amal yang paling utama menurut apa yang ayah?”
"Istighfar wahai anakku," jawabnya.
Maslamah bin Abdul-Malik mimpi bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz setelah
dia meninggal dunia. Dia bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, bertanya-tanya
bagaimana keadaan engkau setelah meninggal dunia?"
"Wahai Maslamah, inilah waktuku yang kosong. Demi Alloh, aku tidak ada
waktu istirahat kecuali saat ini saja," jawab Umar bin Abdul-Aziz..
"Lalu di mana engkau berada wahai Amirul-Mukminin?" tanya
Maslamah.
"Aku bersama para pemimpin petunjuk di surga Adn," jawab Umar bin
Abdul
Aziz.
Shalih Al-Barad berkata, "Aku mimpi bertemu Zararah bin Aufa setelah
dia meninggal dunia. Aku bertanya, "Semoga Alloh merahmatimu. Apa yang
ditanyakan kepadamu dan apa pula jawabanrnu?"
Karena dia berpaling, aku bertanya lagi, "Apa yang diperbuat Alloh
terhadap dirimu?"
Dia menjawab, "Aku dimuliakan karena kemurahan dan kemuliaanNya.
"Bagaimana keadaan Abul-Ala' bin Yazid, saudara Mutharrif?"
tanyaku.
Dia menjawab, "Dia berada di derajat
yang tinggi."
"Apa amal yang paling baik di sisi kalian?" tanyaku.
Dia menjawab, "Tawakal dan tidak berangan-angan yang muluk-muluk."
Malik bin Dinar berkata, "Aku mimpi bertemu Muslim bin Yasar setelah
dia meninggal dunia. Aku mengucapkan salam kepadanya tapi dia tidak
menyahutnya. Aku bertanya, "Mengapa engkau tidak menjawab salamku?"
Dia menjawab, "Aku adalah orang yang sudah mati. Maka bagaimana mungkin
aku bisa menyahut salammu?"
"Apa yang engkau temui setelah meninggal dunia?" tanyaku.
"Demi Alloh,
aku menemui guncangan dan gempa yang dahsyat."
"Lalu apa setelah itu?" tanyaku.
Dia menjawab, "Mimpi yang kamu alami ini terjadi karena Alloh Yang Maha
Pemurah. Dia menertma kebaikan-kebaikan dari kami dan mengampuni
kesalahan-kesalahan kami serta menjamin bagi kami kesudahannya."
Setelah itu Malik jatuh dan pingsan dan beberapa hari kemudian dia jatuh
sakit
yang disusul dengan kematiannya.
Suhail saudara Hazm berkata, "Aku mimpi bertemu Malik bin Dinar
setelah dia meninggal dunia. Aku berkata kepadanya, "Wahai Abu Yahya, aku
selalu berpikir, apa yang engkau bawa menghadap kepada Alloh?"
Dia menjawab,
"Aku datang sambil membawa dosa yang banyak, lalu
dosa-dosa itu diampuni karena baik sangka kepada Alloh."
Setelah Raja’ bin Haiwah meninggal, istri Abid mimpi bertemu dengannya. Maka
istri Abid bertanya kepadanya, "Wahai Abu Miqdam, kemanakah kalian
menuju?"
Raja' menjawab, "Kepada kebaikan. Tapi setelah meninggalkan kalian,
kami kaget dan kami mengira kiamat telah tiba."
"Kalian kaget karena apa?" tanya istri Abid.
Dia menjawab, "Al-Jarrah dan rekan-rekannya masuk surga sambil membawa
beban mereka sehingga mereka berjubel di pintu surga."
Jamil bin Murrah berkata, "Mauriq Al-Ajli sudah kuanggap seperti
saudara dan sekaligus rekan. Suatu hari aku berkata kepadanya, "Siapa pun
di antara kita yang lebih dahulu meninggal, maka dia harus menemui yang lain
lalu mengabarkan apa yang dialaminya."
Ternyata Mauriq yang lebih dahulu meninggal. Tak lama setelah itu ia mimpi
bertemu dengannya, yang seakan-akan dia menemui kami seperti yang biasa dia
lakukan semasa hidupnya. Dia juga mengetuk pintu seperti yang biasa dia
lakukan. Istriku berkata, "Aku bangkit untuk membukakan pintu seperti yang
biasa kulakukan jika dia datang, lalu kukatakan kepadanya, wahai
Abul-Mu'tamar dan hampirilah pintu saudaramu."
Dia berkata, "Bagaimana aku bisa masuk sementara aku sudah meninggal?
Aku datang hanya untuk mengabarkan kepada Jamil tentang apa diperbuat
Alloh terhadap diriku. Beritahukanlah kepadanya bahwa Alloh menempatkan aku di
dua kuburan."
Ketika Muhammad bin Sirin meninggal dunia, maka sebagian di antara rekannya
ada yang merasakan kesedihan yang amat mendalam. Saat tidur dia dan melihat
Muhammad bin Sirin dalam keadaan yang baik, seraya "Wahai saudaraku, aku
sudah melihatmu dalam keadaan yang membuatku gembira. Laiu apa yang terjadi
dengan Al-Hasan?"
Muhammad bin Sirrin menjawab, “Dia diangkat tujuh puluh derajat di atasku”.
"Mengapa begitu, padahal kami melihat engkau lebih utama dari
dirinya?"
Dia menjawab, "Karena kesedihannya yang terus-menerus."
Ibnu Uyainah berkata, "Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri di dalam
tidur. Aku berkata, "Berilah aku nasihat."
Dia berkata, "Buatlah dirimu tidak dikenal manusia."
Ammar bin Saif berkata, "Aku mimpi bertemu Al-Hasan bin Shalih di dalam
tidur, lalu kutanyakan kepadanya, "Sejak lama aku berharap dapat bertemu
denganmu. Maka apa yang terjadi dengan dirimu, sehingga engkau
dapat mengabarkannya kepada kami?"
Dia menjawab, "Terimalah kabar gembira, karena aku tidak melihat
sedikit balasan yang lebih baik dari berbaik sangka terhadap Alloh."
Setelah Dhaigham, seorang ahli ibadah meninggal dunia, maka di antara
rekannya ada yang mimpi bertemu dengannya. Dhaigham bertanya,
"Apakah engkou mendoakan aku?
Maka rekannya menyebutkan alasan dia mendoakannya. Kemudian Dhaigham
berkata, "Selagi engkau mendoakan aku, maka keuntungannya akan kembali
kepada dirimu sendiri."
Setelah Rabi'ah meninggal, seorang rekannya mimpi bertemu dengannya,
dilihatnya dia sedang mengenakan pakaian sutra halus dan sutra tebal. Sementara
ketika matinya dia dikafani dengan kain jubah dan kain kerudung dari
wool. Rekannya bertanya, "Apa yang terjadi dengan kain jubah dan kain dari
wool yang dulu digunakan sebagai kafanmu?"
Rabi ah menjawab, "Demi Alloh, Dia melepasnya dari badanku lalu
menggantinya dengan kain sutra yang engkau lihat ini. Kain kafanku itu
disingkirkan dan diikat, lalu dibawa ke Iliyin, agar menjadi sempurna bagiku
pada hari kiamat nanti."
Rekannya bertanya, "Untuk itukah engkau berbuat selama di dunia?"
Rabi`ah menjawab, "Yang demikian itu karena aku melihat kemuliaan Alloh
yang diberikan kepada wali-wali-Nya."
"Apa yang terjadi dengan Abdah binti Kilab?"
Rabi'ah menjawab, "Tidak, sama sekali tidak. Demi Alloh, dia
mengalahkan kami karena mendapatkan derajat yang tinggi."
"Mengapa begitu? Padahal menurut pandangan manusia, engkau lebih banyak
beribadah daripada dia."
Rabi'ah menjawab, "Karena dia tidak peduli seperti apa keadaannya di
dunia, ketika memasuki pagi atau sore hari."
"Apa yang terjadi dengan Abu Malik?" Yang dimaksudkan adalah
Dhaigham.
Rabi'ah menjawab, "Dia dikunjungi Alloh kapan pun yang dikehendakiNya."
"Apa yang terjadi dengan Bisyr bin Mansur?"
Rabi'ah menjawab, "Bagus, benar-benar bagus. Demi Alloh, Dia memberinya
balasan lebih baik dari apa yang diharapkannya."
"Suruhlah aku untuk mengerjakan sesuatu yang dapat mendekatkan aku
kepada Alloh!"
Rabi'ah berkata, "Hendaklah engkau banyak berdzikir kepada Alloh,
karena yang demikian itu akan lebih cepat mendatangkan kegembiraan di dalam
kuburmu."
Setelah Abdul-Aziz bin Sulaiman, seorang ahli ibadah meninggal dunia, di
antara rekannya munpi bertemu dengannya yang mengenakan pakaian warna hijau,
dan di atas kepalanya ada mahkota dari mutiara. Temannya bertanya,
"Bagaimana keadaanmu setelah meninggalkan kami? Apa yang engkau rasakan
setelah meninggal? Bagaimana urusan yang engkau lihat di sana?"
Maka dia menjawab, "Tentang kematian, janganlah engkau tanyakan
kekerasan, kesusahan dan kesedihannya. Hanya saja rahmat Alloh melingkupi kami
dari segala aib, dan kami tidak mendapatkan kecuali karunia-Nya."
Shalih bin Bisyr berkata, "Setelah Atha' As-Salmy meninggal dunia, aku
bermimpi bertemu dengannya dalam tidur. Aku bertanya, "Wahai Abu Muhammad,
bukanlah engkau sekarang bersama orang-orang yang sudah meninggal dunia?"
"Begitulah," jawabnya.
"Bagaimana keadaanmu setelah meninggal dunia?"
Dia menjawab, "Demi Alloh, keadaanku baik-baik dan kudapatkan Alloh
Maha Pengampun dan menerima syukur."
"Demi Alloh, sewaktu di dunia engkau lebih banyak ditimpa
kesedihan."
Dia berkata sambil tersenyum,
"Demi Alloh, yang demikian itu
justru membuatku dalam ketentraman terus-menerus dan kekal."
"Di derajat manakah engkau sekarang?"
Dia menjawab, "Bersama orang-orang
yang diberi nikmat oleh
Alloh, dari para nabi, shiddiqin, syuhada' dan shalihin, dan mereka adalah
teman yang sebaik-baiknya."
Setelah Ashim Al-Jahdari meninggal dunia, di antara keluarganya ada yang
rnimpi bertemu dengannya. Keluarganya itu bertanya, "Bukankah engkau
benar-benar sudah meninggal dunia?"
Ashim menjawab, "Begitulah."
"Di mana engkau sekarang?"
Dia menjawab, "Demi Alloh, aku sekarang berada di taman-taman surga hersama
beberapa rekanku. Kami berkumpul pada setiap malam Jum'at dan pagi harinya,
menemui Bakar bin Abdullah Al-Mazny, untuk mendengar kabar tentang
kalian."
"Apakah itu jasad kalian ataukah roh kalian?"
Dia menjawab, "Sama sekali tidak. Jasad telah hancur. Roh kamilah yang
saling bertemu."
Murrah Al-Hamdzany biasa sujud lama, sehingga tanah-tanah mengusamkan
keningnya. Seteiah dia meninggal dunia, ada seseorang dari keluarganya mimpi
bertemu dengannya, dan bekas sujudnya itu seperti bintang kejora. Keluarganya
itu bertanya, "Apakah bekas yang menempel di keningmu itu?"
Dia menjawab, "Bekas sujud karena pengaruh tanah itu diberi cahaya.
"Di mana martabatmu di akhirat?”
Dia menjawab, "Di martabat yang baik, suatu tempat tinggal yang
penghuninya tidak berpindah dan tidak mati."
Abu Ya'qub Al-Qari berkata, "Kala tidur aku bermimpi seorang laki-laki
yang kulitnya sawo matang dan tinggi perawakannya. Banyak orang yang membuntuti
di belakangnya. Aku bertanya, "Siapa orang itu?"
Orang-orang itu menjawab, "Dia adalah Uwais Al-Qarni."
Maka aku pun juga mengikuti di belakangnya. Lalu kukatakan kepadanya,
"Berilah aku nasihat, semoga Alloh merahmatimu."
Dia menampakkan wajah yang kurang suka kepadaku. Tapi aku berkata lagi,
"Aku adalah orang yang mengharap petunjuk. Maka berilah aku petunjuk,
semoga Alloh merahmatimu."
Akhirnya dia menghadap ke arahku dan berkata, "Carilah rahmat Alloh
dengan mencintai-Nya, waspadailah kemurkaan-Nya saat durhaka kepadaNya dan
janganlah engkau memupuskan harapanmu kepada-Nya pada saat itu." Setelah
itu berpaling dan pergi meninggalkan aku.
Ibnus-Sammak berkata, "Aku mimpi bertemu Mas'ar di dalam tidur, lalu
kutanyakan kepadanya, "Apakah aural yang paling utama menurutmu?"
Dia menjawab, "Majlis dzikir."
Al-Ajlah berkata, "Aku mimpi bertemu Salamah bin Kuhail di dalam tidur,
lalu kutanyakan kepadanya, "Apakah amal yang paling utama menurutmu?"
Dia menjawab, "Shalat malam."
Abu Bakar bin Abu Maryam berkata, "Aku mimpi bertemu Wafa' bin Bisyr
setelah dia meninggal dunia. Kutanyakan kepadanya, "Apa yang engkau
kerjakan wahai Wafa'?"
Dia menjawab, "Aku selamat setelah melakukan segala upaya."
"Amal macam apa yang kalian dapatkan paling utama?" tanyaku. Dia
menjawab, "Menangis karena takut kepada Alloh."
Al-Laits bin Sa'd menuturkan dari Musa bin Wardan, bahwa dia mimpi bertemu
Abdullah bin Abu Habibah setelah dia meninggal. Abdullah bin Abu Habibah
berkata, "Kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanku diperlihatkan
kepadaku. Aku melihat dalam kebaikan-kebaikanku ada yang berupa biji-biji
delima. Aku mengambilnya lalu kumakan. Aku melihat dalam keburukan-keburukanku
ada yang berupa dua benang sutra dalam kopiahku”.
Sunid bin Daud berkata, "Keponakanku, Juwairiyah bin Asma'
memberitahuku, dia berkata, "Dulu ketika kita berada di Abadan, ada
seorang pemuda penduduk
Kufah dan seorang ahli ibadah yang mendatangi
kita. Dia meninggal pada siang hari yang sangat panas. Aku berkata, "Kita
berteduh dulu, dan setelah itu kita urus jenazahnya." Pada saat itu aku
tertidur, dan aku bermimpi seakan-akan aku berada di sebuah area kuburan. Di
area kuburan itu kubah dari mutiara yang bercahaya dan sangat indah. Ketika aku
sedang melihatnya, kubah itu terbelah dan dari bagian dalamnya muncul seorang
gadis yang kecantikannya belum pernah kulihat yang seperti itu. Gadis itu
menghampiriku seraya berkata, "Demi Alloh, janganlah engkau menahan pemuda
itu dari hadapan kami hingga waktu zhuhur."
Seketika itu pula terbangun kaget, dan aku langsung mengurus jenazahnya, dan
kugali liang kubur di tempat kubah yang kulihat dalam mimpiku dan jasadnya
kukuburkan di sana."
Abdul-Malik bin Itab Al-Laitsi berkata, " Aku mimpi bertemu Amir bin
Qais di dalam tidur. Aku bertanya kepadanya, "Apa yang diperbuat Alloh
terhadap dirimu?"
"Alloh mengampuni dosaku," jawabnya. "Dengan apa Dia
mengampunimu?" tanyaku. "Dengan shalat dan puasa," jawabnya.
"Apakah engkau melihat Manshur bin Zadan?"
Dia menjawab, "Sama sekali tidak. Tapi kami melihat istananya dari
kejauhan."
Yazid bin Nu'amah berkata, "Ada seorang gadis yang meninggal dunia
karena wabah pes yang berjangkit. Ayahnya mimpi bertemu dengannya, seraya
bertanya, "Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang akhirat."
Gadis itu berkata, "Wahai ayah, aku menghadapi urusan yang agung, yang
kita ketahui namun tidak pernah kami amalkan, sedang kalian beramal dan tidak
mengetahui. Demi Alloh, satu kali tasbih atau dua kali, satu rakaat atau dua
rakaat dalam lembar amalku, lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya."
Katsir bin Murrah berkata, "Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan
masuk di tingkatan yang tinggi dalam surga. Aku berkeliling di sana dan aku pun
terkagum-kagum melihat keadaannya. Tiba-tiba aku bertemu dengan sekumpulan
wanita di pojok masjid. Aku mengucapkan salam kepada mereka, lalu kutanyakan,
"Dengan apa kalian sampai ke tingkatan ini?
Mereka menjawab, "Dengan sujud dan takbir."
Muzahim, pembantu Umar bin Abdul-Aziz menyebutkan dari Fathimah binti
Abdul-Malik, istri Umar bin Abdul-Aziz, dia berkata, "Suatu malam Umar bin
Abdul-Aziz terbangun, lalu dia berkata, "Aku baru saja mimpi yang sangat
mengagumkan."
"Mimpi apa itu?" tanya istri Umar.
"Aku tidak akan menceritakannya kepadamu kecuali setelah tiba waktu
pagi," kata Umar.
Ketika tiba waktu subuh, dia bangun dan shalat, lalu kembali ke tempat
duduknya. Istri Umar menuturkan, "Kugunakan kesempatan itu untuk
mendekatinya, lalu kukatakan, "Beritahukanlah mimpimu semalam."
Umar berkata, "Aku bermimpi seakan-akan aku diangkat ke suatu tanah
yang luas dan hijau, yang seakan-akan itu merupakan permadani yang hijau. Di
sana ada sebuah istana bewarna putih yang sepertinya terbuat dari perak.
Kemudian ada seseorang
yang keluar dari dalam istana itu sambil
berseru dengan lantang, "Mana Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib?
Mana Rasulullah SAW?" Maka muncul Rasulullah SAW, lalu masuk ke dalam
istana itu. Kemudian ada orang lain yang keluar dari dalam istana, lalu berseru
dengan suara lantang, "Mana Abu Bakar Ash-Shiddiq? Mana Abu Qahafah?"
Maka Abu Bakar muncul lalu masuk ke dalam istana. Kemudian ada orang lain lagi
yang keluar dari dalam istana dan berseru, "Mana Umar bin
Al-Khaththab?" Maka muncul Umar bin Al-Khaththab lalu masuk ke dalam
istana. Kemudian ada orang lain lagi yang
keluar dari dalam istana dan
berseru, "Mana Utsman bin Affan?" Maka Utsman bin Affan muncul lalu
masuk ke dalam istana itu. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam
istana dan berseru, "Mana Ali bin Abu Thalib?" Maka dia muncul lalu
masuk ke dalam istana. Kemudian ada orang lain lagi yang keluar dari dalam
istana dan berseru, "Mana Umar bin Abdul Aziz?" Lalu Umar berkata,
"Maka aku bangkit hingga aku masuk ke dalam istana. Aku mendekat ke arah
Rasulullah SAW dan orang-orang yang disebutkan tadi ada di sekeliling beliau.
Aku bertanya-tanya di dalam hati, "Di sebelah mana aku harus duduk?"
Maka kuputuskan untuk duduk di sebelah Umar bin Al-Khaththab. Ketika aku sedang
memeriksa, ternyata Abu Bakar ada di sebelah kanan Rasulullah SAW, dan di
sebelah Abu Bakar ada satu orang lagi. Aku bertanya, "Siapakah orang yang
ada di antara Abu Bakar dan Rasulullah SAW itu?" Ada yang menjawab,
"Dia adalah Isa bin Maryam." Tiba-tiba ada yang berbisik kepadaku,
namun antara diriku dan dirinya ada pembatas yang berupa cahaya, "Wahai
Umar bin Abdul Aziz, pegangilah apa yang ada pada dirimu selama ini dan
teguhkanlah hatimu padanya." Kemudian seakan-akan dia mengizinkan aku
untuk keluar. Maka aku pun keluar dari istana itu. Aku menoleh ke belakang,
yang ternyata Utsman bin Affan juga ikut keluar dari -sana, seraya berkata,
"Segala puji bagi Alloh
yang telah menolongku." Kulihat Ali
bin Abu Thalib juga keluar dari istana seraya berkata, "Segala puji bagi
Alloh yang telah mengampuni aku."
Sa'id bin Abu Urubah menuturkan dari
Umar bin Abdul-Aziz, dia
berkata,
Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW, sementara Abu Bakar dan Umar duduk
di sisi beliau. Aku mengucapkan salam lalu ikut duduk. Ketika aku sedang duduk
itu muncul Ali dan Mu'awiyah, lalu keduanya dimasukkan ke dalam satu rumah yang
pintunya tetap dibuka, sehingga aku bisa melihat. Tak seberapa .ama berselang
Ali keluar dari rumah seraya berkata, "Aku telah diberi keputusan oleh Rabbul-Ka'bah."
Tak seberapa lama kemudian Mu'awiyah juga keluar dari rumah
itu seraya berkata, "Aku telah diampuni Rabbul-Ka'bah."
Hammad bin Abu Hasyim berkata,
"Ada seorang laki-laki menemui
Umar bin Abdul-Aziz seraya berkata, "Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW di
dalam tidur, sementara Abu Bakar ada di sisi kanan beliau dan Umar di sisi kiri
beliau. Lalu datang dua orang yang saling bertengkar, sementara engkau ada di
hadapan dua orang itu sambil duduk. Lalu dikatakan kepada engkau, "Wahai
Umar, jika engkau beramal, maka beramAlloh seperti dua orang ini." Yang
maksudnya adalah Abu Bakar dan Umar.
Umar bin Abdul-Aziz meminta orang itu untuk bersumpah atas nama
Alloh dan bertanya, "Apakah engkau benar-benar mimpi seperti itu?"
Maka orang itu pun bersumpah, dan setelah itu Umar bin Abdul Aziz
menangis.
Abdurrahman bin Ghunm berkata, "
Aku mimpi bertemu Mu'adz bin
Jabal tiga hari setelah dia meninggal. Dia naik di atas punggung kuda
yang amat bagus. Sementara di belakangnya ada beberapa orang yang kulitnya
putih sambil mengenakan pakaian warna hijau dan mereka juga naik kuda-kuda yang
bagus.
Mu'adz yang berada di depan berkata, "Alangkah baiknya
sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberi ampun
kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan". Kemudian
dia menengok ke arah kiri dan kanan, seraya berkata, "Wahai Ibnu Rawahah,
wahai lbnu Mazh'un, segala puji bagi Alloh yang telah memenuhi janji-Nya kepada
kami dan telah memberi kepada kami tempat ini, sedang kami diperkenankan
menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga
itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal." Kemudian Mu'
adz menyalami aku dan sambil meng-ucapkan salam.
Qubaishah bin Uqbah berkata, "Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri di
dalam tidur setelah dia meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya, "Apa yang
diperbuat Alloh kepadamu?"
Dia menjawab, "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Rabb-ku dan Dia
befirman kepadaku, 'Selamat datang. Aku ridha kepadamu wahai Abu Sa'id. Kamu
biasa mendirikan shalat jika malam sudah merangkak, dengan kata-kata yang sedih
dan hati yang pasrah. Maka silahkan pilih istana mana yang kamu inginkan, dan
kunjungilah Aku karena Aku tidak jauh darimu'."
Sufyan bin Uyaibah berkata, "Aku mimpi bertemu Sufyan Ats-Tsauri
setelah dia meninggal dunia, seakan-akan dia beterbangan di surga dari satu
pohon korma ke pohon lainnya, dan dari satu pohon ke pohon korma, seraya
berkata, "Untuk kemenangan serupa ini hendaknya berusaha orang-orang yang
suka bekerja."
Ada
yang bertanya kepadanya, "Dengan apa engkau dimasukkan ke
dalam surga?"
Dia menjawab, "Dengan menghindarkan diri dari keduniaan."
"Apa yang terjadi dengan Ali bin Ashim?"
Dia menjawab, "Aku tidak melihatnya melainkan seperti bintang."
Syu'bah bin Al-Hajjaj dan Mas'ar bin Kaddam, adalah dua orang penghapal
Al-Qur'an dan dua orang yang mulia. Abu Ahmad Al-Buraidi berkata, "Aku
mimpi bertemu keduanya, setelah keduanva meninggal dunia. Lalu aku bertanya
kepada Syu'bah, "Wahai Abu Bustham, apa yang diperbuat Alloh terhadap
dirimu?"
Dia menjawab, "Semoga Alloh melimpahkan taufik kepada dirimu. Ingatlah
apa yang kukatakan ini, bahwa Illah-ku menempatkan aku di taman yang memiliki
seribu pintu terbuat dari perak dan mutiara. Dia befirman kepadaku, 'Hai
Syu'bah, orang yang haus mengumpulkan ilmu dan memperbanyaknya. Kamu
mendapatkan nikmat sehingga dapat berdekatan dengan-Ku dan Aku ridha kepadamu
dan kepada seorang hamba-Ku yang suka bangun malam, dialah Mas'ar. Aku memberi
kesempatan kepada Mas'ar untuk mengunjungi Aku dan akan kubukakan Wajah-Ku Yang
Mulia, agar dia dapat memandangnya. Inilah Yang Kuperbuat terhadap orang-orang
yang banyak beribadah dan tidak melakukan kemungkaran'.
Ahmad bin Muhammad Al-Labadi berkata, "Aku mimpi bertemu Ahmad bin
Hambal dalam tidur. Lalu kutanyakan kepadanya, "Wahai Abu Abdullah, .Apa
yang diperbuat Alloh terhadap dirimu?"
Dia menjawab, "Dia mengampuni dosa-dosaku. Kemudian Alloh berfirman,
`Hai Ahmad, apakah kamu menganggap-Ku akan menjatuhkan hukuman enam puluh kali
cambukan?' Aku menjawab, `Benar wahai Rabb-ku'. Lalu Dia befirman, `Inilah
Wajah-Ku. Aku telah membukanya bagimu, maka pandanglah'."
Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj berkata, "Aku diberitahu
seorang laki-laki dari penduduk Thursus. Dia berkata, "Aku berdoa kepada
Alloh agar aku mimpi bertemu dengan orang-orang yang sudah dikubur, sehingga
aku bisa bertanya kepada mereka tentang Ahmad bin Hambal, apa yang diperbuat
Alloh terhadap dirinya? Maka dua puluh tahun kemudian aku bermimpi dalam
tidurku, seakan-akan ahli kubur berdiri di atas kubur mereka, lalu mereka
berkata kepadaku, "Hai, engkau berdoa kepada Alloh agar engkau dapat mimpi
bertemu dengan kami, lalu engkau akan bertanya kepada kami tentang seseorang
yang semenjak dia meninggalkan kalian telah ditempatkan para malaikat di bawah
sebatang pohon
yang bagus." Abu Muhammad Abdul Haqq berkata,
"Perkataan ahli kubur ini hanya ingin menggambarkan ketinggian derajat
Ahmad bin Hambal dan keagungan kedudukannya, sehingga mereka pun tidak sanggup
menggambarkannya secara tepat dan bagaimana keadaannya. Yang pasti, seperti
itulah yang dimaksudkan."
Abu Ja'far As-Saqa', rekan Bisyr bin Al-Harits berkata, "Aku mimpi
bertemu Bisyr Al-Hafi dan Ma'ruf Al-Kurkhi, yang seakan-akan keduanya
mendatangiku. Aku bertanya, "Dari mana?"
Keduanya menjawab, "Dari surga Firdaus. Kami baru saja mengunjungi
orang yang pernah diajak bicara oleh Alloh, yaitu Musa."
Ashim Al-Jazri berkata, "Dalam tidurku aku bermimpi seakan-akan aku
bertemu Bisyr bin Al-Harits. Maka aku bertanya kepadanya, "Dari mana
engkau wahai Abu Nashr?"
Dia menjawab, "Dari Iliyin."
"Apa yang terjadi dengan Ahmad bin Hambal?"
"Saat ini aku meninggalkannya bersama Abdul-Wahhab Al-Warraq ada di
hadapan Alloh, yang keduanya sedang makan dan minum," jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?
Dia menjawab, "Alloh tahu aku kurang suka makanan. Maka Dia
mempcrkenankan aku hanya untuk memandangnya saja.,,
Abu Jaifar As-Saga' berkata, "Aku mimpi bertemu Bisyr bin Al-Harits
setelah dia meninggal. Aku bertanya kepadanya, "Wahai Abu Nashr, apa yang
diperbuat Alloh terhadap dirimu?"
Dia menjawab, "Alloh menyayangiku dan merahmatiku. Dia juga befirman
kepadaku,' Wahai Bisyr, sekiranya kamu bersujud kepada-Ku di atas bara api,
maka kamu belum memenuhi rasa svukur atas apa yg; Kumasukkan ke dalam hati
hamba-hamba-Ku . Lalu Alloh memperkenankan aku untuk memasuki separoh
surga. Maka aku segera masuk ke sana dari manapun yang kukehendaki, dan
Dia berjanji untuk mengampuni dosa orang-orang yang mengiringi jenazahku."
Aku bertanva, "Bagaimana keadaan Abu Nashr At-Tammar”
Dia menjawab, "Dia berada di atas semua manusia karena kesabarannya
menerima cobaan dan kemiskinannya."
Abdul-Haqq berkata, "Boleh jadi yang dimaksudkan separoh surga itu
adalah separoh kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnva, karena memang
kenikmatan di surga itu ada dua paroh, satu paroh merupakan kenikmatan rohani
dan paroh lain merupakan kenikmatan fisik. Pada awal mulanya mereka mereguk
kenikmatan rohani. Jika roh sudah dikembalikan ke jasad, maka kenikmatan rohani
itu ditambahi dengan kenikmatan fisik." Sedangkan selainnya berkata,
"Kenikmatan surga dikaitkan dengan ilmu dan amal. Bagian yang diterima
Bisyr ialah karena amal, dan lebih baik dari pada bagannya karena ilmu. Tapi
Allohlah yang lebih tahu."
Seseorang yang shalih berkata, "Aku mimpi bertemu Abu Bakar AsvySyibli,
yang sedang duduk di sebuah majlis di musim semi di suatu tempat yang biasa dia
duduki. Dia menemuiku sambil mengenakan pakaian yang amat bagus. Maka aku
bangkit untuk menyambut kedatangannya dan ku ucapkan salam kepadanva. Kemudian
aku duduk di hadapannva. Aku bertanva, "Siapakah di antara teman-temanmu
yang tempatnya paling dekat denganmu?"
Dia menjawab, "Orang yang paling banyak berdzikir kepada Alloh, yang
paling banyak memenuhi hak Alloh dan yang paling cepat mencari keridhaan Nya.'
Abu Abdurrahman As-Sahili berkata, "Aku mimpi bertemu Maisarah bin
Sulaim setelah dia meninggal dunia. Aku berkata kepadanya, "Sudah sekian
lama engkau tiada."
Dia menimpali, "Perjalanan amat panjang." "Lalu bagaimana
kesudahanmu?" tanyaku.
Dia menjawab, "Alloh memberikan keringanan kepadaku karena dulu aku
suka memberi fatwa yang meringankan."
"Apa yang bisa engkau perintahkan kepadaku?"
Dia berkata, "Mengikuti
atsar dan bersahabat dengan
orang-orang yang baik, tentu keduanya bisa menyelamatkan dari neraka dan
mendekatkan kepada Alloh."
Abu Ja'far Adh-Dharir berkata, "Aku mimpi bertemu Isa bin Zadan setelah
dia meninggal dunia. Aku bertanya kepadanya, "Apa yang diperbuat Alloh
terhadap dirimu?"
Dia menjawab, "Aku melihat bidadari-bidadari yang cantik membawa
nampan-nampan minuman, bernyanyi sambil berjalan dan bajunya tergerai."
Di antara rekan Ibnu Juraij berkata, "Aku bermimpi seakan-akan aku
mendatangi kuburan yang ada di Makkah ini. Aku melihat di semua kuburan ada
tendanya. Di atas salah satu kuburannya ada tenda, rumah dari bulu dan pohon
bidara. Aku masuk ke dalam tenda itu sambil kuucapkan salam. Ternyata di
dalamnya ada Muslim bin Khalid Az-Zanjy. Aku pun mengucapkan salam kepadanya.
Aku bertanya, "Wahai Abu Khalid, mengapa di atas kuburan-kuburan itu ada
tendanya, sementara di atas kuburanmu ada tenda, rumah dari bulu dan
bidara?"
Dia menjawab, "Sebab aku dulu banyak berpuasa."
"Lalu dimana kuburan Ibnu Juraij dan di mana posisinya? Dulu aku suka
duduk-duduk dengannya dan kini aku ingin mengucapkan salam kepadanya."
Dia menjawab, "Di mana kuburan Ibnu Juraij? Dia diangkat ke
Iliyin." Katanya sambil memutar-mutar jari telunjuknya.
Hammad bin Salamah mimpi bertemu di antara rekannya yang sudah meninggal.
Hammad bertanya kepadanya, "Apa yang diperbuat Alloh terhadap
dirimu?"
Rekannya menjawab, "Alloh befirman kepadaku, 'Sudah cukup lama
penderitaanmu di dunia, dan kini kupanjangkan ketenangan dan
kenikmatanmu."
Pembahasan
Ini merupakan masalah yang panjang dan luas untuk disampaikan di sini. Jika
engkau masih sulit untuk mempercayainya, karena itu hanya sekedar mimpi, yang
berarti tidak terjaga dari kekeliruan dan kesalahan, maka perhatikanlah
baik-baik penuturan seseorang yang mimpi bertemu seorang temannya atau
kerabatnya atau siapa pun (yang sudah meninggal dunia), lalu orang yang sudah
meninggal itu mengabarkan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun kecuali orang
yang bermimpi itu, atau dia memberitahukan harta yang disimpannya ketika masih
hidup atau memberitahukan sesuatu yang akan terjadi, lalu apa yang
diberitahukan itu benar-benar terjadi seperti yang dikatakannya, atau dia
mengabarkan ihwal kematiannya atau kematian keluarganya, dan ternyata persis
seperti yang dikabarkannya, atau dia mengabarkan sebuah tanah yang subur atau
tandus atau tentang musuh, musibah, penyakit atau suatu tujuan, yang
kenyataannya persis seperti yang dikabarkannya. Yang demikian ini banyak terjadi,
dan hanya Allohlah yang dapat menghitung jumlahnya. Hal ini bisa terjadi pada
siapa pun, dan kami melihat yang demikian itu sebagai suatu keajaiban.
Boleh jadi ada orang yang mengatakan, "Itu semua merupakan gambaran
ilmu dan keyakinan, yang dialami seseorang yang bersangkutan ketika dirinya
terbebas dari segala kesibukan fisik karena dia sedang tidur. Itu semua batil
dan mustahil terjadi. Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui urusanurusan
semacam itu, yang dikabarkan orang yang sudah meninggal dunia dan tidak pernah
terlintas di dalam benaknya, tanpa ada tanda-tanda dan isyarat, walaupun kami
juga tidak mengingkari bahwa sebagian di antaranya memang benar-benar
terjadi."
Pernyataan semacam ini tak bisa diterima dan dianggap batil. Memang di antara
mimpi ada yang terjadi karena pengaruh bisikan jiwa dan gambaran keyakinan.
Bahkan banyak orang yang bermimpi sebagai imbas dari pengaruh lintasan-lintasan
hatinya, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan kenyataan
Mimpi itu
sendiri ada tiga macam:
1. Mimpi yang datangnya dari Alloh.
2. Mimpi yang datangnya dari syetan.
3. Mimpi yang datangnya dari bisikan sanubari.
Mimpi yang benar ada beberapa macam, gambarannya seperti dalam beberapa
contoh berikut:
- Semacam ilham yang disusupkan Alloh ke dalam hati hamba. Hal ini berupa
bisikan Alloh terhadap hamba-Nya ketika dia tidur, seperti yang dikatakan
Ubadah bin Ash-Shamit dan lain-lainnya.
- Mimpi
yang disusupkan malaikat yang memang sudah ditugaskan untuk
itu.
- Roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal
dunia, baik keluarga, kerabat, rekan atau siapa pun dia.
- Roh yang naik ke hadapan Alloh lalu Alloh befirman kepadanya.
- Roh yang masuk ke dalam surga dan melihat segala sesuatu yang ada di sana.
- Dan lain-lainnya.
Bertemunya roh orang yang masih hidup dengan roh orang yang sudah meninggal
dunia termasuk jenis mimpi yang benar seperti yang dialami banyak orang dan
termasuk hat yang dapat dirasakan. Memang ini termasuk masalah vang masih rancu
di antara manusia. Ada yang mengatakan bahwa sernua ilmu terpendam di dalam
jiwa. Karena kemampuan ilmu hanya berkait dengan alam nyata, maka ia terhalang
untuk mengetahui roh. Jika seseorang terbebas dari segala kesibukan karena
tidur, maka dia bisa bermimpi menurut latar belakangnya. Karena kebebasannya
dari segala kesibukan dan kedekatannya dengan kematian lebih sempurna, maka
ilmu dan pengetahuannya dalam hal ini juga lebih sempurna. Dalam hal ini bisa
benar dan bisa batil, sehingga tidak bisa ditolak semuanya dan tidak selayaknya
diterima semuanya. Kebebasan jiwa untuk melihat berdasarkan ilmu dan
pengetahuan, tidak bisa diperoleh tanpa kebebasan itu. Tapi jika jiwa itu
benar-benar bebas, maka ia tidak bisa melihat ilmu Alloh yang disampaikan
kepada Rasul-Nya secara rinci tentang rasul-rasul dan umat-umat
yang terdahulu,
tentang hari kiamat, perintah dan larangan, asma' dan sifat, dan lain-lainnya
yang memang tidak bisa diketahui kecuali lewat wahyu. Tapi kebebasan jiwa ini
bisa membantu pengetahuan tentang semua itu, yang relatif bisa didapatkan
dengan cara yang mudah, tanpa harus membawa jiwa kepada aktivitas badan.
Ada pula yang berkata, bahwa ini termasuk ilmu yang disampaikan kepada jiwa
secara spontan, tanpa ada sebabnya. Ini merupakan pendapat orang-orang yang
biasa mengingkari sebab dan hukum yang lebih kuat. Mereka termasuk orang-orang
yang bertentangan dengan syariat, akal dan fitrah.
Ada pula yang berpendapat, mimpi itu merupakan perumpamaan yang disampaikan
Alloh kepada hamba-Nya, tergantung dari latar belakang yang dibuat malaikat
yang menangani mimpi. Terkadang mimpi itu berupa perumpamaan yang disampaikan,
terkadang mimpi yang dialami seseorang dan sesuai dengan kenyataan, berdasarkan
ilmu dan pengetahuannya.
Yang terakhir ini merupakan pendapat yang lebih mengena daripada dua
pendapat sebelumnya. Tapi mimpi tidak sebatas itu saja. Di sana ada sebabsebab
lain seperti yang sudah disebutkan di atas, yang menggambarkan pertemuan
beberapa roh, yang satu mengabarkan kepada yang lain dan pengetahuan roh
tentang segala sesuatu tanpa sarana apa pun.
Abu Abdullah bin Mandah menyebutkan di dalam kitab
An-Nafsu warRuh, dari
hadits Muhammad bin Humaid, kami diberitahu Abdurrahman bin Maghra', dari Salim
bin Abdullah, dari ayahnya, dia berkata,
"Umar bin Al-Khaththab
bertemu Ali bin Abu Thalib, lalu Umar berkata kepadanya, "Wahai
Abul-Hasan, boleh jadi engkau tahu dan kami tidak, atau kami yang tahu dan
engkau tidak. Tiga hal akan kutanyakan kepadamu, siapa tahu engkau tahu
sebagian di antaranya."
"Apa itu?" tanya Ali bin Abu Thalib.
Umar menjawab, "Seseorang mencintai orang lain, padahal orang
yang mencintai itu tidak melihat satu kebaikan pun kebaikan pada orang yang
dicintainya. Seseorang membenci orang lain, padahal orang yang membenci itu
tidak melihat satu pun keburukan pada diri orang yang dibencinya."
Ali berkata, "Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW
bersabda, 'Sesungguhnya roh-roh itu seperti pasukan yang dimobilisir, yang
bertemu di tempat terbuka dan mereka pun merasa bosan. Selagi roh-roh itu
saling mengenal, maka ia akan bersatu, dan selagi roh-roh itu saling
mengingkari, maka ia akan berselisilih ."
Umar berkata, "Itu satu." Lalu dia melanjutkan
perkataannya, "seseorang menyampaikan hadits padahal dia lupa, dan justru
saat lupa itulah dia menyebutkan hadits tersebut."
Ali berkata, "Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW
bersabda, 'Tidaklah ada di dalam hati-hati itu melainkan ada satu hati yang
terhalang mendung seperti mendung yang menghalangi rembulan, ketika rembulan
itu bersinar. Jika rembulan itu terhalang mendung, maka keadaan menjadi gelap.
Jika mendung itu menghilang, maka keadaan menjadi terang. Ketika hati itu
hendak memberitahukan, lalu terhalang mendung, maka ia menjadi lupa. Jika
mendung itu menyingkir, maka ia menjadi ingat kembali."
Umar berkata, "Itu yang kedua." Lalu dia melanjutkan
perkataannya, "seseorang bermimpi, di antara mimpinya itu ada yang benar
cdan ada pula yang dusta."
Ali berkata, "Benar. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW
bersabda, Tidaklah seseorang tidur lelap, melainkan rohnya dibawa ke 'Arsy.
Yang tidak bangun sebelum tiba di 'Arsy, maka itulah mimpi yang benar.
Sedangkan yang bangun sebelum tiba di 'Arsy, maka itulah mimpi yang
dusta'."
Umar berkata, "Itulah tiga perkara yang selama kucari
jawabannya. Segala puji bagi Alloh, sehingga aku mengetahuinya sebelum aku
mati."
Baqiyyah bin Khalid berkata, "Kami diberitahu Shafwan bin Amr,
dari Sulaim bin Amir Al-Hadhramy, dia berkata, "Umar bin Al-Khaththab
berkata, Aku heran terhadap mimpi seseorang, sehingga dia melihat sesuatu yang
tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, sehingga dia seperti memegang
tangan dan melihat sesuatu padahal itu tidak terjadi."
Ali bin Abu Thalib menimpali, "Wahai Amirul-Mukminin,
sesungguhnya Alloh telah berirman, 'Alloh memegang jiwa (orang)
ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya;
maka Dia tahan jiwa ( orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan ."
Ali berkata lagi, "Roh-roh itu dibawa naik ketika tidur, dan
apa yang dilihatnya di langit, maka itu adalah benar. Ketika roh itu
dikembalikan ke jasadnya, maka syetan menyeretnya ke udara dan mendustakannya.
Maka mimpi yang dilihatnya saat itu adalah batil."
Sulaim bin Amir berkata, "Maka Umar bin Al-Khaththab menjadi
kagum terhadap perkataan Ali itu."
Menurut Ibnu Mandah, ini merupakan pengabaran yang masyhur dari Shafwan bin
Amr dan lain-lainnya, yang juga diriwayatkan dari Abud Darda'.
'Ath-Thabrany menyebutkan dari hadits Ali bin Thalhah, bahwa Abdullah
bin Abbas berkata kepada Umar bin Al-Khaththab, "Wahai Amirul-Mukminin,
ada beberapa masalah yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Bertanyalah semaumu," kata Umar.
"Wahai Amirul-Mukminin, karena apa seseorang ingat? Karena apa
seseorang lalai? Karena apa mimpi itu benar? Karena apa mimpi itu dusta?"
Umar menjawab, "Sesungguhnya di atas hati itu ada awan laiknya
awan vang menutupi rembulan. Jika awan ini menutupi hati, maka hati anak Adam
menjadi lalai. Jika awan itu hilang, maka hati menjadi ingat dan tidak lalai.
Lalu karena apa mimpi itu menjadi benar dan dusta? Sesungguhnya Alloh telah
befirman, “Alloh memegang jiwa (orang) ketika matinya dan
(memegang) jiwa(orang) yang belum mati di waktu tidurnya'. Siapa yang jiwa atau
rohnya masuk ke kerajaan langit, maka itu adalah mimpi yang benar dan selagi
tidak masuk ke kerajaan langit, maka itu adalah dusta."
Ibnu Luhai’ah meriwayatkan dari Ibnu Utsman bin Nu'aim Ar-Ru'aini, dari Abu
Utsman Al-Ashbahy, dari Abud-Darda', dia berkata, "Jika seseorang tidur,
maka rohnya dibawa naik sampai ke 'Arsy. Jika roh itu suci, maka ia
diperkenankan sujud di sana, dan jika roh itu kotor, maka ia tidak
diperkenankan sujud di sana."
Ja'far bin Aun meriwayatkan dari Ibrahim Al-Hijri, dari Abul-Ahrash, dari
Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Sesungguhnya roh itu pasukan yang
seakan dimobilisir, yang saling bertemu dan merasa bosan sebagaimana kuda pun
yang bisa merasa bosan. Selagi roh-roh itu saling mengenal, maka ia akan
bersatu, dan selagi saling mengingkari, maka ia akan berselisih."
Manusia semenjak dahulu hingga sekarang tentu menyadari hal ini dan
menyaksikannya. Jamil bin Ma'mar Al-Udzri berkata dalam syairnya,
Waktu siang terus bergolak hingga malamnya
rohku dalam haribaan yang menyatu dengan rohnya.
Jika ada yang berkata, "Orang yang bermimpi dalam tidur bisa
berbincang-bincang dengan orang lain yang masih hidup, padahal jarak antara
keduanya cukup jauh. Sedangkan orang yang melihat dalam keadaan terjaga, rohnya
tidak berpisah dari jasad. Lalu bagaimana roh keduanya bisa saling
bertemu?"
Hal ini dapat dijawab, bahwa yang demikian itu boleh jadi merupakan gambaran
yang diberikan malaikat berupa mimpi kepada orang yang sedang tidur, atau
bisikan sanubari orang yang bermimpi itu sendiri, seperti yang dikatakan Habib
bin Aus dalam syairnya,
Waspadai kepalsuan yang mendatangimu
karena bisikan-bisikan yang datang dari hatimu
Boleh jadi ada dua roh yang selaras dan hubungan keduanya amat erat,
sehingga yang satu dapat merasakan apa yang dirasakan rekannya, sementara orang
lain tidak merasakannya, karena kedekatan hubungan mereka. Biasanya hal ini
disertai berbagai kejadian yang aneh.
Maksudnya, roh orang-orang yang masih hidup dapat saling bertemu sebagaimana
roh orang yang masih hidup dapat bertemu dengan roh orang yang sudah meninggal.
Di antara orang salaf ada yang berkata, "Sesungguhnya roh-roh itu
saling bertemu di angkasa, saling mengenal atau saling mengingat. Malalaikat
mimpi mendatangi roh itu dan menampakkan gambaran yang baik atau yang buruk.
Alloh telah mengutus seorang malaikat untuk mendatangkan rnimpi yang benar,
memberitahukan atau mengilhamkan pengetahuan tentang setiap jiwa, nama dan
keadaannya yang berkaitan dengan agama, dunia dan tabiatnya, sehingga tidak ada
yang tersamar sedikit pun dalam hat ini dan tidak ada yang meleset. Malaikat
itu membawa lembaran ilmu gaib Alloh dari U
mmul-Kitab, sesuai dengan
kebaikan dan keburukan orang itu, dalam agama dan dunianya. Dia diberi
perumpamaan dan gambaran bentuk sesuai dengan kebiasaannya. Terkadang dia
diberi kabar gembira dengan suatu kebaikan yang pernah dilakukannya, terkadang
dia diberi peringatan dari kedurhakaan yang dilakukannya, terkadang diberi
peringatan tentang sesuatu yang tidak disenanginya dan diberi sebab-sebab yang
bisa menghindarkan diri darinya, dan hikmah atau kemaslahatan lain yang
dijadikanlah Alloh dalam mimpi, sebagai limpahan nikmat dan rahmat dari-Nya,
kebaikan dan kemurahan-Nya. Alloh menjadikan salah satu di antara cara-caranya
ialah lewat pertemuan beberapa roh, yang kemudian saling mengingatkan. Berapa
banyak orang yang bertaubat, menjadi baik dan zuhud di dunia hanya karena mimpi
yang dialaminya dalam tidur. Berapa banyak orang yang mendapat harta terpendam
hanya karena lewat mimpi."
Dalam kitab
Al-Mujalasah karangan Abu Bakar Ahmad bin Marwan Al
Mlaliki disebutkan dari Ibnu Qutaibah, dari Abu Hatim, dari Al-Ashma'i, dari
Al-Mu'tamar bin Sulaiman, dari seseorang yang memberitahukan kepadanya, dia
berkata, "Suatu kali kami bertiga mengadakan perjalanan jauh. Ketika salah
seorang di antara kami tidur, kami melihat dari hidungnya keluar sesuatu
seperti sebuah lampu. Lalu lampu itu masuk ke dalam sebuah gua tak jauh dari
tempat kami, keluar lagi dan masuk ke dalam hidung teman kami. Lalu teman kami
itu terbangun sambil mengusap-usap mukanya. Dia berkata, "Aku baru saja
mimpi vang sangat aneh. Aku melihat di dalam gua itu ada begini dan
begitu." Maka kami pun masuk dan kami mendapatkan di dalamnya ada
sisa-sisa harta yang terpendam, entah sudah berapa lama."
Abdul-Muththalib juga pernah bermimpi agar datang ke Zamzam. Ketika ke sana,
dia mendapatkan harta terpendam.
Inilah Umair bin Wahb yang bermimpi, seakan-akan ada orang yang berkata
kepadanya, "Bangunlah dan datanglah ke tempat ini dan itu dari suatu
rumah, lalu galilah, niscaya engkau akan mendapatkan harta peninggalan
ayahmu." Karena memang ayahnya pernah menimbun harta yang melimpah dan dia
keburu meninggal tanpa sempat meninggalkan wasiat tentang harta itu. Maka Umair
langsung bangun dari tidurnya dan menggali rumah seperti yang ditunjukkan dalam
mimpinya. Ternyata di sana ada sepuluh ribu dirham dan biji emas yang banyak.
Dengan uang itu dia bisa melunasi hutangnya dan keadaan keluarganya pun menjadi
mapan. Hal itu terjadi setelah dia masuk Islam. Ketika keadaan sudah berubah,
putrinya yang paling kecil berkata kepadanya, "Wahai ayah,
Rabb kita
yang mencintai kita dengan agama-Nya, lebih baik daripada Hubal dan Uzza. Kalau
tidak karena ayah masuk Islam, tentu harta benda ini tidak akan ditunjukkan,
dan selama-lamanya ayah akan menyembah Hubal."
Ali bin Abu Thalib Al-Qairawany berkata, "Apa yang terjadi pada diri
Umair ini dan ditemukannya harta benda
yang melimpah lewat mimpi,
merupakan kejadian yang amat mengagumkan bagi kami. Pada zaman kami hal seperti
ini juga dialami Abu Muhammad Abdullah Al-Bughanisyi, seorang laki-laki yang
shalih dan terkenal, karena sering mimpi bertemu dengan roh orang-orang yang
sudah meninggal dan juga bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang gaib. Apa
yang dialaminya itu diceritakan kepada keluarga dan kerabatnya, sehingga lambat
laun dia menjadi terkenal. Suatu kali ada seseorang yang menemuinya, lalu
mengadu bahwa seorang sahabat karibnya meninggal tanpa meninggalkan pesan apa
pun. Padahal rekannya itu memiliki harta yang banyak tapi tidak diketahui di
mana tempatnya. Padahal harta itu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Maka pada
malam itu Abu Muhammad berdoa kepada Alloh, sehingga dia mimpi bertemu dengan
orang yang ciri-cirinya sudah disebutkan. Ketika dia menanyakan urusan di atas,
maka orang tersebut memberitahukannya."
Berikut ini termasuk peristiwa yang jarang terjadi. Ada seorang wanita tua
yang shalih meninggal dunia. Sementara dia hanya menitipkan tujuh dinar kepada
seorang wanita teman dekatnya. Wanita
yang dititipi itu datang kepada
Abu Muhammad dan mengadu tentang apa
yang menimpa dirinya. Wanita itu
memberitahukan namanya dan nama wanita yang telah meninggal dunia. Keesokannya,
wanita itu datang lagi menemui Abu Muhammad, dan Abu Muhammad berkata,
"Fulanah berkata kepadamu,'Hendaklah engkau kembali ke rumahku, hitunglah
bilangan atap rumahnya sebanyak tujuh kayu, tentu di sana engkau akan
mendapatkan uang dinar di dalam kayu yang ketujuh, yang
tersimpan di
dalam sobekan kain wool'. Maka wanita itu melakukan apa yang diperintahkan
kepadanya, dan dia mendapatkan apa yang dikatakan rekannya yang telah meninggal
dunia itu
Al-Qairawani juga berkata, "Aku diberitahu seseorang
yang kukira
dia tidak berdusta, dia berkata, "Aku diupah seorang wanita yang kaya
untuk merobohkan rumahnya. Padahal rumah itu dibangun dengan biaya yang mahal
dan banyak. Ketika aku sudah mulai merobohkannya, dia menyuruh-ku untuk
menghentikannya, juga atas persetujuan beberapa orang di sekitar-nya.
"Ada apa?" aku bertanya.
Wanita pemilik rumah menjawab, "Demi Alloh, kurasa aku tidak perlu
merobohkan rumah ini. Ayahku meninggal dunia, padahal dulu dia orang yang kaya
raya. Namun begitu kami tidak mendapatkan harta yang banyak. Suatu saat aku
berpikir bahwa hartanya dipendam, sehingga aku ingin merobohkan rumah ini,
siapa tahu aku mendapatkan harta itu di dalamnya."
Sebagian orang yang hadir di tempat itu berkata, "Engkau kehilangan
cara yang paling mudah untuk mengetahui harta itu."
"Apa itu?" tanya wanita pemilik rumah.
"Temuilah Fulan dan mintalah pertolongan kepadanya agar dia mencari
jalan keluar dari kisahmu, siapa tahu dia mimpi bertemu dengan ayahmu, sehingga
dia bisa menunjukkan di mana hartanya, sehingga engkau tidak berpayah-payah dan
tidak repot."
Maka wanita pemilik rumah itu menemui orang yang dimaksudkan lalu kembali
lagi menemui kami. Dia mengatakan bahwa dia telah menulis nama dirinya dan nama
ayahnya, yang kemudian diserahkan kepada orang tersebut. Keesokan harinya
ketika aku hendak memulai kerja, pemilik rumah dan orang tersebut datang,
seraya berkata, "Aku mimpi bertemu ayahmu yang mengatakan bahwa harta itu
tersimpan di dalam sebuah celukan tanah."
Maka kami menggali tanah seperti yang ditunjukkan dan ternyata di sana ada
bungkusan kain yang di dalamnya terdapat harta yang banyak. Kami benar-benar
heran dengan kejadian ini. Tapi wanita pemilik rumah menganggap harta itu masih
terlalu sedikit. Dia berkata, "Harta ayahku lebih banyak dari bungkusan
ini. Maka aku harus menemui orang itu lagi."
Maka wanita pemilik rumah mendatangi orang tersebut dan memohonnya sekali
lagi. Pada keesokan harinya orang itu datang dan berkata, "Ayahku berkata
agar engkau menggali di bawah kolam besar yang bentuknya empat persegi yang
dijadikan tempat penyimpanan minyak."
Kami menggali tempat itu dan mendapatkan wadah yang amat besar. Maka wanita
pemilik rumah mengambilnya. Tapi rupanya dia belum puas dan masih menginginkan
harta yang lain lagi dari peninggalan ayahnya. Ketika dia memintaku untuk
memohon pertolongan lagi kepada orang tersebut, namun aku kembali sendirian,
maka wanita itu tampak muram dan sedih, seraya berkata, "Orang itu
berkata, bahwa dia mimpi bertemu ayah, agar mengatakan kepadaku,'Engkau telah
mengambil apa yang ditetapkan. Adapun harta lainnya diduduki Ifrit dari jenis
jin, yang menjaganya dan hendak diberikan kepada siapa yang berhak'."
Kisah tentang masalah ini amat banyak. Begitu pula penggunaan suatu obat
untuk mengobati penyakit menurut petunjuk mimpi yang dilihat ketika tidur.
Aku (Ibnu Qayyim) diberitahu tidak hanya oleh satu orang saja yang
sebenarnya tidak condong kepada Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, bahwa dia mimpi
bertemu dengan Syaikhul-Islam setelah dia meninggal dunia. Dalam mimpinya itu
dia bertanya tentang beberapa masalah fara'idh yang dianggapnya rumit, dan juga
masalah-masalah lain, yang kemudian dijawab dengan benar oleh Syaikhul-Islam.
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa masalah ini bukan termasuk sesuatu
yang diingkari kecuali oleh orang yang bodoh dan tidak mengerti masalah roh,
hukum-hukum dan keadaannya.
(Demikianlah Tulisan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, yang telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia).
----------------------------------------------------+--------------------------------------------------------------------
Diskusi :
Tulisan ini adalah diskusi yang berlangsung di Facebook grup
Pengajian Al Islam Solo.
Diskusinya cukup menarik dan silahkan pembaca
menyimpulkannya sendiri.
Ahmad
Saiful Hadiningratan kita yg blm nyampe
matannya/ redaksi : Imam Bukhory mimpi temu Rosululloh SAW, dan di situ ada
kipas......Rosululloh SAW katakan : kamu ( wahai Bukhory) yg akan KIPAS KIPASI
hadis doif, palsu, spt hadist, diaku aku sbg hadist.........( narasumber kajin
Bukhory) pernah sampaikan, hanya mmg blm sampai...ntah di bab mana......????
makanya pengkaji Bukhiry biasanya dimusuhi kalangan SUFI, atau Pengagum
seseorang/ Ulama......krn merekalah yg akan beber " kejumudannya / terlena
dlm ahli ibadah namun lupa diharaplan jd ahl;i ilmu.........Allohu A'lam......
Ahmad
Saiful Hadiningratan Ahmad Dahlan/ Muhamadiyah,
Hasyim Asy;ari, Imam Ghozali (Al islam), Munawwir (krapyak) termasuk sosok yg
ahli hadist, hgga selalu menempati shof shof awal di masjid makkah/ cerita nara
sumber......jika generasi sekarang : sedikit agak jauh, anggap saja : inilah
kekuatan / kelemahan sebuah ormas/ firqoh.........msg msg tentu akan bertahan
dg pendapatnya, meski ada kesempatan yg namanya MUSYAWARAH, sbgmana saat Nabi
Wafat : para sahabat berunding, krn mmg blm ada syariat bagaimana penggantian
pola yg pas thd " leadership nya", spiritual leade nya dll....
Ahmad Nasyith
kata "nafs" dan "ruh" dua2 nya
digunakan dlm al-qur'an, dalam QS 39:42 tidak disebutkan kata "ruh"
ketika difahamai bhw yang di "yatawaffa" oleh Allah adalah
"ruh", karena dlm ayat tsb justru disebutkan " yatawaffa
al-anfus" ( jamak dari "nafs" adalah "anfus" ), bukan
"yatawaffa ar-ruh"
Ahmad Nasyith
menurut mas masjid, MIMPI itu apa definisinya ? dan
apakah MIMPI bisa terjadi dalam keadaan TERJAGA/SADAR ( tidak sedang TIDUR ).
Ahmad
Saiful Hadiningratan mimpi ki kembange
turu.......jd g perlu dipusingkan dg mimpi. memang katanya ada mimpi, yg spt
nya jd beneran.....inilah mimpi para Nabi Nabi. Bahkan diantara mimpi Nabi Yusuf
AS saat bocah dibelakang hari : jadi kenyataan.....
--------------------------
RUH itu bs macem macem, RUH uumumnya mengarah ke
Malaikat Jibril.........* tentang lailatul Qodar/ Surah Al Qodr **....atau
Ruhul Qudus : Isa Binti Maryam, kalo agama lain istilahkan dg Roh Kudus....../
mau apa apa monggo waelah, yg penting : Ruhul Qudus dlm ajaran Isam beda dg
lain lainya.....
Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang RUH......??
beliau jawab via wahyu juga : Katakanlah ( Muhammad ) : itu urusan Ku ( Alloh SWT)
--- Yas aluunaka 'Anir Ruuhi, Qulir Ruuhi Min Amri
Robbik ------
---------------------------
Kullu Nafsin Dzaaiqutul Mauut : Tiap Tiap yg "
berjiwa/ bernafas " pasti/ yakin akan rasakan maut/ mati...........
Tentang RUH ini, kita pernah punya tulisan......ada
ahli nuklir UGM yg coba definisikan RUH, malah salah kaprah kabeh...
http://saifulhadiningratan.wordpress.com/2011/11/19/ahli-nuklir-bicara-tentang-ruh.....

saifulhadiningratan.wordpress.com
Saat mengkaji hadist bab ” jenazah ” pada Sohihul Bukhory Nomor : 1338 ( original text/ kitab kuning ), sang Nara Sumber : Ust R. Syukur menceritakan pengalamannya saat seminar di Jogja...
Ahmad
Saiful Hadiningratan saya ini kalo tidur, sering
" bicara sendiri ", terutama kalo dibangunken.........n pasti g
sambung sama sing nggugah........bagi yg biasa : g aneh.......biasane tgt dg
aktivitas terakhir. Misal spt blogging, bangun bangun : bicara BLOG secara
otomatis.........ini beneran n sering....
Ahmad Nasyith
Lik, kamsudku ki kalu menyandarkan perkara
"mungkinya" roh si mati itu bisa ditemui oleh yg masih hidup itu
melalui momentum TIDUR, sebagaimana terjemahan/tafsir dr QS 39:42, lha ini yg
pingin sy ajak dulur2 meng"kritisi" dgn jurus njamsarenan
"CETITI".
Ahmad Nasyith
ngamal syar'i iku syarate kudu SADAR, bahkan orang
SADAR tapi belum BALIGH, juga tidak dibenani hukum terkait amal syar'i. Lha
kalu sekarang ada HUJJAH dlm hal ushul yg disandarkan pd perkara yg dilakoni
oleh orang yg TIDAK SADAR..... kepiye jal..?
Ahmad Nasyith
maka apapun yg didapat dlm keadaan TIDAK SADAR,
harus di uji dulu dgn dalil ayat & hadits yg difahmai dgn cara atau dalam
keadaan SADAR....
Ahmad
Saiful Hadiningratan Ibnu Qoyyim : ini khan baru
pendapat beliau Yaa......meski kepakarannya diakui ( murid Ibnu Taimiyah ),
namun jika tjd ikhtilaaf : jelas sangat may b sekali......
Ahmad Nasyith
mungkin ada "plesetan" pemahaman ttg
hadits : " ulama itu adalah pewaris Nabi ", sehingga difahami bhw yg
diwariskan itu sampai kepada hal2 yg sebenarnya hanya khusus bagi para Nabi,
spt dlam hal mimpi nya para Nabi yg tentu berbeda kedudukan dgn mimpi nya orang
selain Nabi.
Ahmad Nasyith
sampai2 seorang said agil munawar pernah bilang :
""Imam Syafi'i itu khadimus sunnah, nashirussunnah, atau apa saja
gelarnya. Itu beliau bisa ketemu Rasulullooh kapan saja, beda dengan kita. Jadi
mau ketemu Rasulullooh sekarang, langsung bisa ketemu. Sementara kita minta
mimpi-mimpi, tidak ketemu-ketemu. Tidak usah terlalu jauh imam Syafi'i, guru
saya saja syaikh Muhammad Yasin 'Isa al-Adhhani yang dikenal itu. Nah .... saya
pernah mengalami satu kesulitan, dalam menulis desertasi ada beberapa hadits
ketika saya akan tasrih, itu nggak ketemu-ketemu. Saya sampai pusing & mata
sudah capek nggak ketemu-ketemu. Akhirnya saya datang ke 'bab' (kediaman)
beliau karena memang beliau guru saya dan saya ngajar di Darul Fi'il selama 4
tahun. Dia bilang: 'Ada apa Agil, ada masalah?' Pak Agil menjawab 'Ada', ada 2
hadits yang begini dan begini. Saya sudah cari dan saya sudah capek. Saya mau
tanya sama syaikh, apa teks hadits tersebut?' Jawabnya: 'Nanti malam saya nanya
sama Rasulullooh . Nanti besok dzuhur ketemu saya disini. Apakah betul beliau
pernah mengatakannya, pernah mengucapkannya dan dimana itu adanya nanti saya
tunjukkan.' Besoknya saya habis dzuhur ketemu dengan beliau dan mengatakan
'Saya semalam sudah ketemu sama Rasulullooh. Rasulullooh katakan, benar dua
hadits beliau ucapkan. Adanya dimana? Coba cari disini dan disini.' Semuanya
selesai."
Ahmad
Saiful Hadiningratan ada sebagian yg msh percaya
dg demikian, misal msh percaya bs temu majlisnya Nabi Khidir ( lihat web nya
ponpes waduuhh.......lupa nih, yg ada di Kediri karanglho ). Kyai nya dulu :
mimpi temu Hiidir, esoknya bs ngajar tafsir ( saya pernah temu santrinya di
sebuah bus antarkota( dan si santri ini percaya saja............kalo dr saudara
kita ada : di Lumajang dulu, adik Mas Haris ( ketua Osis ), adiknya setiap
ujian selalu mimpi soal yg keluar.......n nilainya 10 r\terus.......akhire
malas kuliah, jd guru ( msh hidup/ nggak....??) Allohu A'lam......
Ahmad
Saiful Hadiningratan org org tasawwuf : malah
anggap Abdul Kadir jaelany bs stop api neraka.......???? ( ceramah tengku Azhar
bbrp hari lalu di RDS FM Solo), atau malah bisa temu/ lihat Alloh SWT...........!!!!
apa yg dikatakan Said Agil Munawar : perlu uji saja,,,,,,,,,,,kalo saya kok
ragu thd tindakan I. Syafei demikian.......
Ahmad Nasyith
yen tenan bisa....wis ora usah jero2 le sinau tafsir
ambek musthala hadits, asal wis ana sing isa NGIMPI diskusi ambek
Rasulullah..... beres kabeh.
Tapi terus QS 5:101 tentang himbauan Allah agar
tidak memasalahkan hal2 yg justru akan menyulitkan pembahsan, krn jika hal itu
ditanyakan ketika wahyu masih diturunkan tentu akan dijelaskan oleh Rasulullah.
Jadi ada masa dimana wahyu sudah tidak turun, dan
dilarang untuk membahas hal2 yg justru akan sulit jadinya jika dibahas, krn
sudah tidak ada rujukan brp wahyu.
pripun Pak Lik...?
Ahmad
Saiful Hadiningratan karomah dsb, insya Alloh
masih ada......ada " Walaqod Karromnaa Banii Aaadama.........dst ",
atau " Yuqorribunaa Zulfaa "......namun yaah bener statement bhw :
jgn banyak nanya bila itu malah SULIT..........bagi yg memang ada STW : semoga
full barokah, bagi yg biasa biasa sj ( kaya kayak kita ini ) : sebaiknya mmg
tdj perlu mimpi hingga miliki " kekaromahan / kekeramatan ".......ini
ceita crita wae, katanya alm. Mbah Abu 'Amr : kalo hujan deras, g nimpa sama
sekali saat ke keraton.......!!!!! kata Ummy, tp ya itulah cerita.....org lain
anggap itu : Wali atau semacam nya lah......Allohu A'lam
Ahmad
Saiful Hadiningratan ada 2 hal :
1... Alloh SWT sdh karomahkan.....pd hamba itu (
mistri/ ghoib )
2....Org Org itu yg mmg tingkat dekatnya melebihi
standar ( Yuqorribunaa ) spt lafadz : Ghoffaro, qorroba ( bimakna berkali kali
mengampuni, atau berkali kali mendekat )......kalo ini msh visibility nya
umum.........sapa mendekat Alloh SWT, DIA akan lbh dekat,,,,,,
Ahmad Nasyith
iku ojo2 simbah ngasto payung ning sing mayungi Mbh
Ghopar....xixixi
Ahmad
Saiful Hadiningratan spt Mbah Kyai
Sirath........khan sangat subjektiv sekali, yg pasti : alm Abdusshomad mmg
selalu jd sasaran nya Kyai Sirath......selalu minta uang, n selalu minta
uang.......saksinya msh ada ( Ummy ). Hobbinya Kyai Sirath, Kidul SMA mmg
demikian........mangkanya : bg yg percaya : jgn ditiru, bagi yg tdk percaya :
jangan coba coba pingin bs spt itu..
Muhamad
Natsir Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai
banyak arti.
Kata روح untuk ruh
Kata ريح (rih) yang berarti angin
Kata روح (rawh) yang berarti rahmat.
Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut
jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat.3 Jika kata ruhani dalam bahasa
Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam
bahasa Arab kalimat
روحانيون * روحاني
Digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus
yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.4
Dalam al-Qur'an, ruh juga digunakan bukan hanya satu
arti. Term-term yang digunakan al-Qur'an dalam penyebutan ruh, bermacam-macam.
Diantaranya ruh di sebut sebagai sesuatu:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ
أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra': 85)
Hanya saja, ketika ruh manusia diyakini sebagai zat
yang menjadikan seseorang masih tetap hidup
الروح انه ما به حياة النفس
atau seperti yang dikatakan al-Farra' [5]
الروح هو الذي يعيش به الإنسان
Serta jawaban singkat al-Qur'an atas pertanyaan itu
(lihat QS. Al-Isra': 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi
"rahasia" yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.
Selanjutnya al-Qur'an juga banyak menggunakan kata
ruh untuk menyebut hal lain, seperti:
Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS.
Al-Syu'ara' 193, al-Baqarah 87, al-Ma'arij 4, al-Naba' 38 dan al-Qadr 4.
(الروح الأمين , روح القدس , (والروح الملئكة
Rahmad Allah kepada kaum mukminin dalam QS.
al-Mujadalah 22
وأيدهم بروح منه
Kitab suci al-Qur'an dalam QS. Al-Shura 52.6
وكذلك أوحينا إليك روحا من امرنا
Tentang bagaimana hubungan ruh itu sendiri dengan
nafs, para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ibn Manzur mengutip pendapat Abu
Bakar al-Anbari yang menyatakan bahwa bagi orang Arab, ruh dan nafs merupakan
dua nama untuk satu hal yang sama, yang satu dipandang mu'anath dan lainnya
mudhakkar.7
Makalah berikut ini berusaha menjelaskan beberapa
pendapat 'ulama Islam yang berusaha menjelaskan pengertian, kedudukan dan
hubungan ruh dengan nafs dalam diri manusia, berdasarkan rentang urutan hidup
mereka:
Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)
Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa
(nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies
(jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata. Jiwa (ruh)
merupakan kesempurnaan awal, dalam pengertian bahwa ia adalah prinsip pertama
yang dengannya suatu spesies (jins) menjadi manusia yang bereksistensi secara
nyata. Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh
sendiri merupakan prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa
jika aktual di dalam tubuh dengan satu perilaku dari berbagai perilaku8 dengan
mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh
yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.
Muhamad
Natsir Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi
3 bagian yang masing-masing bagian saling mengikuti, yaitu
Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang
ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan
awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek
melahirkan, tumbuh dan makan.
Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada
manusia dan hewan. Ia mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal
bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta menangkap
berbagai parsialitas dan bergerak karena keinginan.9
Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada
manusia. Jiwa ini melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina
mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat
mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku eksistensial
berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia
mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal.10
Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)
Sebagaimana Ibn Sina, al-Ghazali membagi jiwa
menjadi tiga golongan, yaitu:
Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu
kesempurnaan awal baqgi benda alami yang hidup dari segi makan, minum, tumbuh
dan berkembang.
Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu
kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup dari segi mengetahui hal-hal yang
kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu
kesempurnaan awal bagi benda yang hidupdari segi melakukan perbuatan dengan
potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang bersifat
umum.11
Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut
sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs al-natiqah/jiwa manusia). Ia
sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh, sedangkan setelah masuk
ke dealam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-'aql), yaitu daya
praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan
hal-hal yang abstrak. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa kalb, ruh dan
al-nafs al mutmainnah merupakan nama-nama lain dari al-nafs al-natiqah yang
bersifat hidup, aktif dan bisa mengetahui.12
Ruh menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama
yaitu di sebut ruh hewani, yakni jauhar yang halus yang terdapat pada rongga
hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihatan
yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya yang
menerangi sebuah ruangan. Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan
manusia mengetahui segala hakekat yang ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa
hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi.13 Di
sini al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan
itu tidak begitu jelas. Lagi pula ajaran Islam tidak membagi manusia dalam
kenyataan hidupnya pada aspek jasad, akal atau ruh, tetapi ia merupakan suatu
kerangka yang saling membutuhkan dan mengikat; itulah yanmg dinamakan manusia.
Muhamad
Natsir Ibn Tufail (Awal abad IV/580 H/ 1185 M)
Menurut Ibn Tufail, sesungguhnya jiwa yang ada pada
manusia dan hewan tergolong sebagai ruh hewani yang berpusat di jantung. Itulah
faktor penyebab kehidupan hewan dan manusia beserta seluruh perilakunya. Ruh
ini muncul melalui saraf dari jantung ke otak, dan dari otak ke seluruh anggota
badan. Dan inilah yang yang menjadi dasar terwujudnya semua aksi anggota
badan.14
Ruh berjumlah satu. Jika ia bekerja dengan mata,
maka perilakunya adalah melihat; jika ia bekerja dengan telinga maka
perilakunya adalah mendengar; jika dengan hidung maka perilakunya adalah
mencium dsb. Meskipun berbagai anggota badan manusia melakukan perilaku khusus
yang berbeda dengan yang lain, tetapi semua perilaku bersumber dari satu ruh,
dan itulah hakikat zat, dan semua anggota tubuh seperti seperangkat
alat".15
Ibn Taimiyah ( 661-728 H/1263-1328 M)
Ibn Taimiyah berpendapat bahwa nafs tidak tersusun
dari substansi-substansi yang terpisah, bukan pula dari materi dan forma.
Selain itu, nafs bukan bersifat fisik dan bukan pula esensi yang merupakan
sifat yang bergantung pada yang lain.16 Sesungguhnya nafs berdiri sendiri dan
tetap ada setelah berpisah dari badan ketika kematian datang.
Ia menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk
pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah
kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan
badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat
tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut
ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut
ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan,
sehingga angin juga disebut ruh.17
Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa kata ruh dan nafs
mengandung berbagai pengertian, yaitu:
Ruh adalah udara yang keluar masuk badan.
Ruh adalah asap yang keluar dari dalam hati dan
mengalir di darah.
Jiwa (nafs) adalah sesuatu itu sendiri, sebagaimana
firman Allah SWT: ... Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang ...
(QS. al-'An'am, 54).
Jiwa (nafs) adalah darah yang berada di dalam tubuh
hewan, sebagaimana ucapan ahli fiqih, "Hewan yang memiliki darah yang
mengalir dan hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir".
Jiwa (nafs) adalah sifat-sifat jiwa yang tercela
atau jiwa yang mengikuti keinginannya.18
Tentang tempat ruh dan nafs di dalam tubuh, Ibn
Taimiyah menjelaskan: "Tidak ada tempat khusus ruh di dalam jasad, tetapi
ruh mengalir di dalam jasad sebagaimana kehidupan mengalir di dalam seluruh
jasad. Sebab, kehidupan membutuhkan adanya ruh. Jika ruh ada di dalam jasad,
maka di dalamnya ada kehidupan (nyawa); tetapi jika ruh berpisah dengan jasad,
maka ia berpisah dengan nyawa".19
Ibn Taimiyah menyatakan bahwa jiwa (nafs/ruh)
manusia sesungguhnya berjumlah satu, sementara al-nafs al-ammarah bi al-su',
jiwa yang memerintahkan pada keburukan akibat dikalahkan hawa nafsu sehingga
melakukan perbuatan maksiat dan dosa, al-nafs al-lawwamah, jiwa yang terkadang
melakukan dosa dan terkadang bertobat, karena didalamnya terkandung kebaikan
dan keburukan; tetapi jika ia melakukan keburukan, ia bertobat dan kembali ke
jalan yang benar. Dan dinamakan lawwamah (pencela) karena ia mencela orang yang
berbuat dosa, tapi ia sendiri ragu-ragu antara perbuatan baik dan buru, dan
al-nafs al-mutmainnah, jiwa yang mencintai dan menginginkan kebaikan dan
kebajikan serta membenci kejahatan.20
Muhamad
Natsir Ibn Qayyim al-Jauziyah (691-751
H/1292-1350 M)
Ibn Qayyim al-Jauziyah Menggunakan istilah ruh dan
nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat
nurani 'alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di
tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jizm ini menembus
substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api
di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima
pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap
membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan
memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan.21
Ibn Qayyim menjelaskan pendapat banyak orang bahwa
manusia memiliki tiga jiwa, yaitu nafs mutmainnah, nafs lawwamah dan nafs
amarah. Ada orang yang dikalahkan oleh nafs mutmainnah, dan ada yang dikalahkan
oleh nafs ammarah.
Mereka berargumen dengan firman Allah:
Wahai jiwa yang tenang (nafs mutmainnah) ...
(QS. Al-Fajr: 27).
Aku sungguh-sungguh bersumpah dengan hari kiamat dan
aku benar-benar bersumpah dengan jiwa lawwamah
(QS. al-Qiyamah: 1-2)
Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada
keburukan (nafs ammarah)
(QS. Yusuf: 53)
Ibn Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya jiwa manusia
itu satu, tetapi memiliki tiga sifat dan dinamakan dengan sifat yang
mendominasinya. Ada jiwa yang disebut mutmainnah (jiwa yang tenang) karena
ketenangannya dalam beribadah, ber-mahabbah, ber-inabah, ber-tawakal, serta
keridhaannya dan kedamaiannya kepada Allah. Ada jiwa yang bernama nafs
lawwamah, karena tidak selalu berada pada satu keadaan dan ia selalu mencela;
atau dengan kata lain selalu ragu-ragu, menerima dan mencela secara bergantian.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nafs lawwamah dinamakan demikian karena
orangnya sering mencela. Sedangkan nafs ammarah adalah nafsu yang menyuruh
kepada keburukan.22
Jadi, jiwa manusia merupakan satu jiwa yang terdiri
dari ammarah, lawwamah dan mutmainnah yang menjadi tujuan kesempurnaan dan
kebaikan manusia. Sehingga ada kemiripan antara pendapat Ibn Qayyim dengan
pendapat Ibn Taimiyah tentang tiga sifat jiwa ini.
Ibn Qayyim juga menjelaskan dan membagi menjadi tiga
kelompok kaum filosof yang terpengaruh oleh ide-ide Plato. Ia menyebutkan tiga
jenis cinta pada masing-masing kelompok tersebut, yaitu:
Jiwa langit yang luhur (nafs samawiyah 'alawiyah)
dan cintanya tertuju pada ilmu pengetahuan, perolehan keutamaan dan
kesempurnaan yang memungkinkan bagi manusia, dan usaha menjauhi kehinaan.
Jiwa buas yang penuh angkara murka (nafs sab'iyyah
ghadabiyyah) dan cintanya tertuju pada pemaksaan, tirani, keangkuhan di bumi,
kesombongan, dan kepemimpinan atas manusia dengan cara yang batil.
Jiwa kebinatangan yang penuh syahwat (nafs hayawaniyyah
shahwaniyyah) dan cintanya tertuju pada makanan, minuman dan seks.23
Dari konteks pembicaraan Ibn Qayyim ini, dapat
dipahami bahwa ketiga macam jiwa ini bukan berdiri sendiri dan bukan pula
berarti jiwa yang yang tiga, tetapi ia merupakan tiga daya untuk satu jiwa.24
Muhamad
Natsir Filosof Lain
Al-Nazzam berpendapat bahwa ruh adalah jism dan
jiwa. Ia hidup dengan sendirinya. Ia masuk dan bercampur dengan badan sehingga
badan tersebut menjadi bencana, mengekang dan mempersempit ruang lingkupnya.
Keberadaannya dalam badan adalah untuk menghadapi kebinasaan badan dan menjadi
pendorong bagi badan untuk memilih. Seandainya ruh telah lepas dari badan, maka
semua aktivitas badan hanyalah bersifat eksidental dan terpaksa.
Al-Jubba'i berpendapat bahwa ruh adalah termasuk
jism, dan ruh itu bukan kehidupan. Sebab kehidupan adalah a'rad (kejadian). Ia
beranggapan bahwa ruh tidak bisa ditempati a'rad.
Abu al-Hudhail beranggapan bahwa jiwa adalah sebuh
definisi yang berbeda dengan ruh dan ruhpun berbeda dengan kehidupan, karena
menurutnya kehidupan adalah termasuk a'rad. Ia menambahkan, ketika kita tidur
jiwa dan ruh kita kadang-kadang hilang, tetapi kehidupannya masih ada.
Sebagian mutakallimin lain meyakini bahwa ruh adalah
definisi kelima selain panas, dingin, basah dan kering. Tetapi mereka berbeda
ketika membahas tentang aktivitas ruh. Sebagian berpendapat aktivitas ruh
bersifat alami, tetapi sebagian lain berpendapat bersifat ikhtiyari.25
Muhamad
Natsir sebagai penutup Dalam filsafat dan
tasawuf Islam, di samping istilah ruh dan al-nafs, ditemukan juga istilah
al-qalb dan al-'aql. Empat istilah ini tersebut mempunyai hubungan yang sangat
erat ibarat kacang dengan kulit arinya.
Para ulama di atas hampir semua sepakat bahwa
pengertian ruh adalah sama dengan nafs (kecuali Abu Hudhail). Hanya saja,
ketika mereka berusaha mengupas lebih dalam lagi tentang peran, macam-macam,
fungsi ruh dan tujuan penciptaan ruh bagi kehidupan manusia terkesan berbeda.
Meskipun perbedaan tersebut amat tipis sekali karena kesemuaan pembahasan
diatas saling berkaitan satu dengan yang lainnya yang terkadang pada proses dan
fase tertentu mereka mendefinisikannya sama.
Terlepas dari pro dan kontra berbagai pendapat
mengenai ruh dan hal-hal yang terkait dengannya, satu hal yang pasti, bahwa
kebenaran tentang hakekat dari ruh itu sendiri tetap menjadi rahasia Allah
semata dan Ia hanya membukakan sedikit celah pintu bagi manusia untuk mencoba
membuka dan menyingkapnya secara utuh.
Muhamad
Natsir referensi 3 Ibn Manzur, Lisan al-'Arab,
ttp (Dar al-Ma'arif, t.th), 1763-1771. Lihat juga, Ahmad Warson M., Al-Munawwir
(Yogyakarta: Pesantren Al-Munawwir, 1984), 1232.
4 Ibn Manzur, Lisan...
5 Edward William Lane, Arabic-English Lexicon
(London: Islamic Texts Society Trust, 1984), 1182.
6 Jiwa Dalam Al-Qur'an, 128.
7 Ibn Manzur, Lisan..., 1768.
8 'Uthman, Najati, M., Al-Dirasah al-Nafsaniyyah
'inda al-'Ulama', al-Muslimin, terj. (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 144.
9 Ibn Sina, Ahwa al-Nafs, ditahkik oleh Ahmad Fuasd
al-Ahwani (Kaira: Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, 1952), 258.
10 Ahwa al-Nafs, 62-65.
11 Dewan Redaksi, Ensklopedi Islam vol. 4
(Jakarta:Ichtiar Baru van Hoeve, 1993), 174.
12 Ensiklopedi Islam, 147.
13 Ensiklopedi Islam vol. 4, 176.
14 Ahmad Amin, Hayy bin Yaqzan li Ibn Sina wa Ibn
Tufail wa al-Suhrawardi, cet. III (Kairo: Dar al-Ma'arif, 1966), 37-38.
15 Hay bin Yaqwzan, 149.
16 Ibn Taimiyah, Risalah fi al-'Aql wa al-Ruh dalam
M. Uthman Najati, al-Dirasah..., 342.
17 Majmu'ah al-Rasail al-Muniriyyah, 1970, 36-37.
18 M. Amin Damej, Majmu'ah al-Rasail al-Muniriyah,
juz 2, 1970, 39-41 dimuat dalam al-Dirasah...,343.
19 Al-Dirasah...,47-48.
20 Al-Dirasah...,41
21 Ibn Qayyim al-Jauziyah, Kitab al-Ruh, ditahkikkan
oleh Sayyid Jamili, cet. Iv (Bairut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1986), 276.
22 Kitab al-Ruh, 330.
23 Ibn Qayyim al-Jauziyah, Raudah al-Muhibbin wa
Nuzah al-Mushtaqin (Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi tt.), 259-287.
24 Ibid, 252-255.
25 Imam Abu Hasan Ali bin Isma'il Anwar (Bandung
al-Asy'ari, Maqalat al-Islamiyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, terj. Rosihan:
Pustaka Setia, 1999), 69-71.
<Cuplikan dari M. Aqim Adlan>
Amin, Ahmad, Hayy bin Yaqzan li Ibn Sina wa Ibn
Tufail wa al-Suhrawardi, cet. III, Kairo: Dar al-Ma'arif, 1966.
al-Asy'ari, Imam Abu Hasan Ali bin Isma'il, Maqalat
al-Islamiyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, terj. Rosihan Anwar, Bandung: Pustaka
Setia, 1999.
Damej, M. Amin, Majmu'ah al-Rasail al-Muniriyah, juz
2, 1970.
al-Jauziyah, Ibn Qayyim, Kitab al-Ruh, ditahkikkan
oleh Sayyid Jamili, cet. I, Bairut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1986.
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim, Raudah al-Muhibbin wa Nuzah
al-Mushtaqin, Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi tt.
Lane, Edward William, Arabic-English Lexicon,
London: Islamic Texts Society Trust, 1984.
Manzur, Ibn, Lisan al-'Arab, ttp, Dar al-Ma'arif,
t.th..
Mubarok, Achmad, Jiwa dalam Al-Qur'an, Jakarta:
Paramadina, 2000.
Najati M. 'Uthman, Al-Dirasah al-Nafsaniyyah 'inda
al-'Ulama' al-Muslimin, terj., Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.
Othman, Ali Issa, Manusia menurut Al-Ghazali, cet.
II, Bandung: Pustaka, 1987.
Redaksi, Dewan, Ensklopedi Islam vol. 4, Jakarta:
Ichtiar Baru van Hoeve, 1993.
Sina, Ibn, Ahwa al-Nafs, ditahkik oleh Ahmad Fuasd
al-Ahwani Kaira: Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, 1952.
Taimiyah, Ibn, Risalah fi al-'Aql wa al-Ruh, tt.
Warson, Ahmad Warson,
Al-Munawwir, Yogyakarta: Pesantren Al-Munawwir,
1984.
Idris Madjidi
Wah Mas Muhamad Natsir,
penjelasannya panjang sekali. matur nuwun.
Ahmad Nasyith, kan pernah mimpi, jadi tahu dong mimpi itu
apa.
Mengenai mimpi bertemu Nabi SAW itu adalah haq
berdasarkan hadis sahih a.l :
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih
berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb ia berkata; telah
mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab ia berkata; telah mengabarkan
kepadaku Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwa Abu Hurairah berkata, "Aku
mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa
melihatku dalam mimpi maka ia akan melihatku di saat sadar, atau beliau
mengatakan, "sekan ia melihatku dalam alam nyata. Dan setan tidak akan
dapat menyerupaiku." (HR Abu Daud, hadis no 4369).
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah
menceritakan kepada kami Hammad dia adalah Ibnu Salamah, telah mengabarkan
kepada kami Ammar dari Ibnu Abbas, ia berkata; Aku pernah melihat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang dili
hat orang dalam mimpi di siang hari, beliau berdiri
dengan rambut kusut dan berdebu, beliau membawa sebuah botol yang berisi darah.
Aku berkata; "Ayahku dan ibuku sebagai tebusannya, wahai Rasulullah,
apakah ini?" Beliau menjawab: "Ini adalah darah Husain dan para
sahabatnya, yang aku temukan sejak hari ini." Maka kami mengingat hari
itu, kemudian mereka mendapatinya terbunuh pada hari itu. (HR Ahmad hadist no –
2422).
Kalau yg mengaku bermimpi bertemu Nabi itu adalah
Ibnu Abbas, maka saya percaya.
Kalau yg mengaku bermimpi bertemu Nabi itu adalah
ulama-ulama yg saleh dan tentunya jujur, maka saya percaya.
Kalau yg mengaku bermimpi bertemu Nabi itu adalah
seorang politikus, maka saya tidak percaya.
Beberapa ulama yg pendapatnya mirip dg Ibnu Qoyyim,
a.l Jalaluddin As Sayuti, Ibnu Katsir, Imam Ghazali dll.
Baca saja postingku di Pengajian Al Islam
"Jalaluddin As Sayuti Yg hidup temu yg mati.pdf".
Baca juga tafsir Ibnu Katsir, yg bukan ringkasan
tapi aslinya dlm bahasa arab, pada pembahasan ayat 64 Surat An Nisa.
Idris Madjidi
Tafsir Ibnu Katsir, yg bukan ringkasan tapi aslinya
dlm bahasa arab, pada pembahasan ayat 64 Surat An Nisa (terjemahnya):
Pada suatu hari ketika aku (Al-Utbah) sedang duduk
bersimpuh dekat makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui.
Didepan makam beliau itu ia berkata: As-Salamu'alaika ya Rasulallah. Aku
mengetahui bahwa Allah telah berfirman : Sesungguhnya jika mereka ketika
berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai
Muhammad) , kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan
ampun bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah
untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa'atmu, ya
Rasulallah..'. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa saat
kemudian aku (Al-Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku
bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku : Hai Utbah, susullah segera
orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni
dosa-dosanya'.
Ahmad Nasyith
Uraian dari Pak Natsir yg sangat
detail...subhanallah, baarokallaahulakum.
Kalu membaca uraian ttg istilah ruh & nafs dari
Pak Natsir, maka dgn jusrus CETITI sy mencoba membatasi persoalan pd diri
manusia saja, dan ada beberapa hal yang perlu dicermati, sbb :
1. rujuk QS 7:172, dalam ayat ini Allah menggunakan
istilah NAFS, ketika manusia diambil kesaksianya sebelum manusia dilahirkan ke
dunia. setting kejadian ini adalah di alam sebelum alam rahim (kandungan ibu)
dan alam dunia.
2. rujuk QS 32:9 , dalam ayat ini Allah menggunakan
istilah RUH yg ditiupkan dlm proses kejadian manusia di alam rahim (kandungan
ibu), shg dgn adanya RUH itu berfungsilah sama', bashor dan af'idah manusia yg
masih dlm alam rahim tsb
dari 2 hal tsb, jika merujuk pd tulisan Pak Natsir
maka bisa dimunculkan pertanyaan, apakah RUH yg ditiupkan Allah dlm proses
kejadian manusia dlm alam rahim itu adalah NAFS yg dahulunya ketika sblm di
alam rahim telah diambil kesaksianya oleh Allah.. jika IYA, maka sesuatu yg ada
dlm diri manusia yg ditiupkan Allah itu bisa disebut NAFS atau RUH, krn
keduanya adalah sesuatu yg sama.
sampai disini dulu, pripun tanggapan Pak Natsir dan
para sederek....?
Idris Madjidi
Pada tulisan Ibnu Qoyyim itu, yg dimaksud ruh yg
berkumunikasi itu adalah nafs/jiwa. Ruh menyebabkan jiwa dan badan hidup, jin
hidup.
Ahmad Nasyith
jadi apa Mas majid tetep membedakan antara RUH yg
ditiupkan Allah saat kejadian manusia dlm alam rahim, dengan NAFS yg diambil
persaksianya oleh Allah di alam sebelum alam rahim..?
Idris Madjidi
Banyak ulama salaf yg meyakini bahwa jiwa manusia
bisa (memungkinkan) saling berkomunikasi. walaupun antara yg masih hidup di
alam lahiriyah dg yg di alam batiniyah/barzakh.
Khabar dari Nabi SAW, baik yg melalui kitab hadis,
maupun yg langsung (mimpi atau bukan mimpi), mestinya disikapi sebagaimana ahli
hadis menilai suatu hadis. Semua tergantung perawi dan sanadnya. Kalau orang yg
mengaku mimpi itu tidak memenuhi syarat sahih, kabar darinya juga tidak sahih.
Khabar dari Nabi SAW itu, tidak menambah ajarannya,
tetapi mengingatkan ajarannya yg kita lupakan. Wallohu a'lam.
Idris Madjidi
saya sependapat dg Nasith bahwa beda antara ruh dan
nafs, sebagaimana telah ditengkan di ayat-ayat yg telah sampeyan sebutkan itu.
Ahmad Nasyith
bagaimana untuk mengetahui bhw "sesuatu"
itu memang hanya yg "terlupakan" dari ajaran syari'at islam, dan
bukan yg "baru" ttg syari'at islam, jika kemudian validasinya
terletak/kembali kpd MIMPI orang yg diakui derajatnya yg alim,sholeh, jujur,dll
Idris Madjidi
Kalau kita yg awam ini, maka konsultasikan dg ulama
yg memenuhi syarat sahih itu, dan pakai akal dan hati yg dimohonkan kpd Alloh
spy sehat wal afiat.
Ahmad Nasyith
jurus jamsarenan CETITI, sy lakukan dgn tahapan
begini lho mas :
1. ada pendapat ttg bisanya ruh org yg hidup dgn
orang yg sudah mati berkomunikasi, dan ayat yg menjadi sandaran utama adalah QS
39:42 (sy lari dulu ke ayat nya, sebelum lari ke hadits)
2. QS 39:42 coba sy CErmati,khususnya dari istilah
yatawaffa, anfus, dan maut yg digunakan dlm ayat tsb dan termasuk istilah dlm
tafsir ttg ayat tsb, yaitu Ruh.
3. definisi istilah2 tsb sy coba gali dgn membaca
pendapat pr ulama yg bisa para sederek2 sharing ttg istilah2 tsb. ( spt yg
sudah di tuliskan Pak Natsir )
Ahmad Nasyith
memang proses CETITI insyallah tidak akan instan,
tetapi sy rasa cocok utk dilakukan melalui media pengajian al-islam ini, dimana
banyak para sederek yg punya rujukan/link2 pendapat para ulama yg bisa di share
via ruang ini
Ahmad Nasyith
kalu mas majid sepakat bhw dlm diri manusia itu ada
NAFS dan RUH, yg mana keduanya itu BUKAN sesuatu yg sama, maka setidaknya bisa
catat hal sbb :
Sebelum ada di alam rahim, manusia itu adalah NAFS,
kemudian ketika di alam rahim terjadi proses penciptaan (kholaqo) manusia ( dlm
qur'an digunakan istilah insan & basyar QS 15:26,28 QS 16:4 QS 25:24 QS
32:7, dll ) maka JISM yg terdiri dari darah, tulang, daging, kulit, dll itu
kemudian ditiupkan RUH oleh Allah, maka jadilah JISM + RUH itu memiliki sama',
bashor & fuad (QS 32:9).
Selama insan/basyar itu di dunia, Allah jg menyebut
manusia dgn NAFS (QS 2:9,44,54, 110, dll ). dan ketika sudah tidak di alam
dunia Allah menyebut hanya dgn NAFS ( QS 2:48 )
jadi secara sederhana proses perjalanan
"manusia" dari istilah yg digunakan al-qur'an bisa diurutkan sbb :
di alam pra-dunia : NAFS ---> di alam dunia :
JISM + RUH = INSAN/BASYAR & NAFS ---> di alam pasca dunia : NAFS
jadi yg "selalu" melekat pada makhluk yg
namanya manusia itu dr pra dunia, dunia, dan pasca dunia adalah apa yg disebut
dlm al-qur'an dgn istilah NAFS
pripun para sederek, mangga dipun galih rumiyin......dan
tambahan rujukan serta koreksi sangat diperlukan dlm bahasan ini.
Ahmad Nasyith
mengenai JISM manusia yg sudah hancur dan kemudian
menjadi pertanyaan sanggahan dari orang yg tidak percaya adanya hari
kebangkitan, di dalm al-qur'an tidak dijelaskan dgn tegas bhw memang nanti JISM
itu akan dibuatkan lagi oleh Allah ketika di alm pasca dunia, tapi Allah hanya
menegaskan bhw kalu hanya untuk mengembalikan JISM yg sudah hancur itu adalah
perkara mudah bagi Allah, tapi sy kok blm menemukan ayat yg jelas2 menyebutkan
perihal JISM bagi NAFS di alam pasca dunia kelak (QS 36:79, QS 75:3) ..... bisa
jadi ada di hadits, tapi skrg ini sy masih fokus dulu ke ayat qur'an nya, biar
tidak "pating blasur"
Ahmad Nasyith
mangga Pak Natsir kemawon ingkang ndamel posting
ipun...... kula tumut kemawon wonten wingking
Idris Madjidi
Monggo Mas Muhamad Natsir.
dibuat posting tersendiri yg membahas Ruh, Nafs, Jism dan yg terkait di grup
pengajian Al Islam.