26 Apr 2013

Tafsir Ibnu Katsir : Ringkasan dan TerjemahNYA, Ringkasan Yang Sahih atau Penyunatan



Diskusi

Tafsir Ibnu Katsir : Ringkasan dan Terjemah - Ringkasan Yang Sahih atau Penyunatan?


Tulisan ini adalah diskusi yang berlangsung di Facebook grup Pengajian Al Islam Solo.
Diskusinya cukup menarik dan silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri.

MENGENAL SEKILAS TAFSIR IBNU KATSIR <semoga menambah wawasan pengetahuan kita....aamiin 3x>

I. PENDAHULUAN

Tafsir Ibnu Katsir merupakan kitab paling penting yang ditulis dalam masalah tafsir al-Qur’an al-‘Azim, paling banyak diterima dan tersebar di tengah umat Islam. Beliau telah menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menyusunnya. Tidak mengherankan jika penafsiran beliau sangat kaya dengan riwayat (baik hadits maupun atsar), bahkan hampir seluruh hadits riwayat Imam Ahmad yang terdapat dalam Kitab al-Musnad tercantum dalam kitab ini.

Beliau menggunakan rujukan-rujukan penting lainnya yang sangat banyak, sehingga sangat bermanfaat dalam berbagai disiplin ilmu agama (seperti aqidah, fiqh, dan lain sebagainya). Sangat wajar apabila Imam As-Suyuthi berkata : “ Belum pernah ada kitab tafsir yang semisal dengannya.”

II. PEMBAHASAN

A. Biografi Pengarang

Beliau adalah imam yang mulia Abdul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Quraisy al-Busharwi yang berasal dari kota Basharah, kemudian menetap di Damascus. Beliau lahir pada tahun 705 H dan wafat pada tahun 774 H. Beliau adalah seorang ulama yang terkenal dalam bidang tafsir, hadits, sejarah, dan fiqh. Beliau mendengar hadits dari ulama-ulama Hidjaz dan mendapat ijazah dari al-Wani serta mendapat asuhan dari ahli ilmu hadits terkenal di Suriah yaitu Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mazi mertuanya sendiri.

Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia 6 tahun, oleh karena itu sejak tahun 706 H beliau hidup bersama kakaknya di Damascus.
Beliau juga berguru kepada Ibnu Taimiyah dan sangat mencintai gurunya itu. Sebagian ulama menggangap beliau sebagai salah seorang murid Ibnu Taimiyah yang paling setia dan paling gigih mengikuti pandangan gurunya dalam masalah fiqh dan tafsir.

B. Latar Belakang Penulisan

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.”(QS. Ali Imran 187)

Dengan firman Allah di atas, maka menurut Ibnu Katsir wajib bagi ulama untuk menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam firman Allah dan tafsirya.

C. Bentuk, Metode dan Coraknya

Tafsir Ibnu Katsir dipandang sebagai salah satu tafsir bi al-ma’tsur yang terbaik, berada hanya setingkat di bawah tafsir Ibnu Jarir at-Thabary. Ibnu Katsir menafsirkan al-Qur’an berdasarkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang disanadkan kepada perawinya, yaitu para sahabat dan tabi’in.
Dalam bidang tafsir, Ibnu Katsir mempunyai metode tersendiri. Menurutnya jika ada yang bertanya: “Apakah metode tafsir yang paling bagus?” maka jawabnya: “Metode yang paling shahih dalam hal ini adalah menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an.

Dan perkara-perkara yang global di satu ayat dapat ditemukan rinciannya dalam ayat lain. jika tidak mendapatkannya maka hendaklah mencarinya dalam Sunnah kerena Sunnah adalah penjelas bagi al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.”

Jadi menurut menurut hemat penulis, Ibnu Katsir dalam penafsirannya mempunyai metode sebagai berikut:

1. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an
2. Bila penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an tidak didapatkan, maka al-Qur’an ditafsirkan dengan hadits Nabi.
3. Kalau yang kedua tidak didapatkan maka al-Qur’an harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat, karena mereka orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya ayat dalam al-Qur’an.
4. Jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat para tabi’in perlu diambil.

Bentuk Penafsirannya

Dari aspek bentuk penafsirannya, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim karya Ibnu Katsir ini memakai bentuk riwayat (al-ma’tsur). Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim yang banyak menggunakan riwayat-riwayat baik dari para sahabat maupun para tabi’in.

Metode Penafsirannya

Dari empat macam metode penafsiran yang berkembang sepanjang sejarah tafsir al-Qur’an, berdasarkan penelitian saya terhadap Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim karya Ibnu Katsir, ternyata metode yang digunakan dalam tafsir ini adalah metode analitis (tahlili).

Corak Penafsirannya

Dari beberapa corak penafsiran yang berkembang sepanjang sejarah tafsir al-Qur’an, berdasarkan penelitian saya terhadap Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim karya Ibnu Katsir, ternyata corak yang digunakan Ibnu Katsir dalam tafsir al-Qur’an al-‘Adzim adalah bercorak umum.

D. Karakteristiknya

Diantara ciri khas tafsir Ibnu Katsir adalah perhatiannya yang besar kepada masalah tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an (menafsirkan ayat dengan ayat). Sepanjang pengetahuan saya, tafsir ini merupakan tafsir yang paling banyak memuat atau memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, kemudian diikuti dengan penafsiran ayat dengan hadits-hadits marfu’ yang relevan dengan ayat yang sedang ditafsirkan, menjelaskan apa yang menjadi dalil dari ayat tersebut. Selanjutnya diikuti dengan atsar para sahabat, pendapat tabi’in dan ulama salaf sesudahnya.

Dalam hal ini, Rasyid Ridha berkomentar, “Tafsir ini merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap riwayat-riwayat dari para mufassir salaf, menjelaskan makna-makna ayat dan hukumnya, menjauhi pembahasan masalah I’rab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufassir, menghindar dari pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak diperlukan dalam memahami al-Qur’an secara umum atau hukum dan nasehat-nasehatnya secara khusus.”

Keistimewaan lain dari tafsir Ibnu Katsir adalah daya kritisnya yang tinggi terhadap cerita-cerita Israiliyat yang banyak tersebar dalam kitab-kitab tafsir bil-ma’tsur, baik secara global maupun mendetail.

E. Perbedaan dengan Tafsir At-Thabari

Kitab tafsir at-Thabari yaitu “Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an”, merupakan tafsir paling besar dan utama, menjadi rujukan penting bagi para mufassir bil-ma’tsur. Para ulama sependapat bahwa belum pernah sebuah kitab tafsir pun yang ditulis sepertinya. Sehingga Ibnu Katsir pun banyak menukil darinya. Tidak aneh lagi jika tafsir Ibnu Katsir memiliki sedikit kemiripan dengan tafsir at-Thabari.

Namun dari persaman itu memunculkan perbedaan diantara kedua kitab tafsir itu, yaitu diantaranya pada kitab tafsir at-Thabari memaparkan tafsir dengan menyandarkan kepada sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sehingga pada kitab tafsir at-Thabari terdapat cerita-cerita Israiliyat. Berbeda dengan kitab tafsir Ibnu Katsir, beliau sangat kritis terhadap cerita-cerita Israiliyat.

DAFTAR PUSTAKA
Ad-Damsyiqi, Abu al-Fida Ismail ibn Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim. Beirut: Darul Fikr. 1997
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein, At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Juz I, Kairo: Dar al-Kutub, 1961
Al-Qatthan, Manna Khalil. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. terj. Mudzakir. Jakarta: Litera Antar Nusa. 1998
Baidan, Nasruddin. Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Solo: Tiga Serangkai. 2003
Faudah, Mahmud Basuni. Tafsir-Tafsir Al-Qur’an Perkenalan dengan Metodologi Tafsir. Bandung: Pustaka. 1987
Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah Al-Qur’an. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama R.I. 1984

Idris Madjidi Kalau terjemah ringkasan tafsir Ibnu Katsir sebagian diantaranya tidak shahih.

Muhamad Natsir apa dasar madjid mengatakan dgn sgt meyakinkan bhw itu tdk sahih ?

Idris Madjidi Saya sudah melihat perbedaan buku Terjemah ringkasan tafsir Ibnu Katsir dengan text berbahasa Arab Tafsir Ibnu Katsir, pada sebagian ayat. Contoh tafsir mengenai ayat 35 S Al Maidah.
Untuk lebih meyakinkan Mas Muhamad Natsir, silahkan baca Tafsir Ibnu Katsir yg dulu ada di Pak De Muhtadi dengan Terjemah ringkasan tafsir Ibnu Katsir.

Muhamad Natsir lebih afdhol jika Madjid meng upload teks aslinya dgn terjemahan aslinya lalu menampilkan terjemahan/tafsiran versi Madjid sehingga para pembaca bisa melihat dgn jelas letak ketidak sahihannya krn jika Madjid mengatakan kesimpulan tdk sahih sementara tdk ada dasar yg dipakai pijakannya itu ibarat, jump into conclusion....maaf jika komentar ini kurang berkenan....biarlah pembaca yg menilai. Pandangan Madjid spt nya berdasarkan informasi yg belum final....

Ahmad Nasyith urun info :
Allah swt berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah atau patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
Berkata Imam Ibn katsir menafsirkan ayat ini :
Wasilah adalah sesuatu yang menjadi perantara untuk mendapatkan tujuan, dan merupakan perantara pula ilmu tentang setinggi tinggi derajat, ia adalah derajat mulia Rasulullah saw di Istana beliau saw di sorga. Dan itu adalah tempat terdekat di sorga ke Arsy, dan telah dikuatkan pd shahih Bukhari dari jalan riwayat Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir bin Abdillah ra, sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg berdoa ketika mendengar seruan (adzan) :Wahai Alla Tuhan Pemilik Dakwah ini Yang Maha Sempurna, dan Shalat Yang didirikan, berilah Muhammad perantara dan anugerah, dan bangkitkanlah untuk beliau saw derajat yg terpuji yg telah Kau Janjikan pada beliau saw, maka telah halal syafaat dihari kiamat”.
Hadits lainnya pada Shahih Muslim, dari hadits Ka;ab dari Alqamah, dari Abdurrahman bin Jubair, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, sungguh ia mendengar Nabi saw bersabda : “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkan seperti ucapan mereka, lalu bershalawatlah padaku, maka sungguh barangsiapa yang bershalawat padaku sekali maka Allah melimpahkan shalawat padanya 10x, lalu mohonlah untukku wasiilah (perantara), maka sungguh ia merupakan tempat di sorga, tiada diberikan pada siapapun kecuali satu dari hamba Allah, dan aku berharap agar akulah yg menjadi orang itu, maka barangsiapa yg memohonkan untukku perantara, halal untuknya syafaat.
Dan hadits lainnya berkata Imam Ahmad, diucapkan pada kami oleh Abdurrazzak, dikabarkan pada kami dari sofyan, dari laits, dari Ka;ab, dari Abu Hurairah ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : “Jika kalian shalat maka mohonkan untukku wasiilah, mereka bertanya : Wahai Rasulullah, (saw), wasiilah itu apakah? Rasul saw bersabda : Derajat tertinggi di sorga, tiada yg mendapatkannya kecuali satu orang, dan aku berharap akulah orang itu”. Selesai ucapan Imam ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir pd Al Maidah 35).
ada apa dgn tafsir tsb ???

Idris Madjidi Saya tidak menganggap tidak sahih pada tafsir ibnu katsir, tetapi saya berpendapat terjemah ringkasan tafsir ibnu katsir sebagiannya tidak sahih. mesti dicermati kalimat saya ini,
Suatu tulisan atau riwayat dikatakan sahih setelah memenuhi krteria ygsangat ketat.
Pada terjmah ringkasan tafsir ibnu katsir oleh m nasib arrifai, di pengantarnya dia menulis bahwa a.l. dlm tafsir ibnu katsir terdapat hal-hal yg kotor (hadis dhaif, hadis palsu, israiliyat dll). maka peringkasnya itu membuangnya. itu adalah opini si peringkas. dlm hal ini hadis-hadis dan atsar yg lain pada tafsir ibnu katsir tentu layak ditampikan oleh beliau sbg sebuah tafsir. kalau hanya pengulangan hadis itu layak untuk diringkas, sebagaimana sanad-sanad pada sahih Bukhori yg panjang diringkas.
si peringkas sudah menilai tafsir ibnu katsir mengandung kotoran, tetapi saya sendiri tidak berani menilai tafsir ibnu katsir apakah mengandung kotoran. itulah sehingga saya berpendapat buku ringkasan tafsir itu sebagiannya tidak sahih.
Idris Madjidi Sebagian perbedaan antara tafsir ibnu katsir dengan ringkasannya telah saya upload di notes grup Al Islam ini dg judul "Tafsir Ibnu Katsir Surat AnNisa 64" atau di https://www.facebook.com/groups/462168267127989/484367811574701/.

Idris Madjidi Mengenai tafsir ayat 35 surat Al maidah, pada buku ringkasan telah dihilangkan Nabi Muhammad sebagai wasilah, malah ditambahkan catatan kaki bhw menjadikan nabi Muhammad sbg wasilah itu dilarang.

Ahmad Nasyith kalu tafsir yg sy infokan di atas itu, dari terjemah atas tafsir Ibn Kastir atas QS 5:35, keliatanya memang tidak ada kalimat yg menyebutkan bhw Muhammad saw sebagai wasilah.
1. wasilah : sesuatu yang menjadi perantara untuk mendapatkan tujuan
2. wasilah : adalah "nama" sebuah tempat di surga yg brd dekat dgn arsy, yg merupakan tempat keberadaan Muhammad saw dan sbg rumah (daar) beliau di surga.
kalu yg dimaksud dgn kalimat : " 'ilmun 'aliyyul a'la" manzilatun fil jannah ( ............. yg berada di surga) >> sy blm bisa nangkap maksud kalimat " 'ilmun 'aliyyul a'la " itu, dlm kontek dgn sebuah tempat di surga.
Tapi apapun maksud dr kalimat " 'ilmun 'aliyyul a'la" tsb, tetap saja kok tidak sy temukan kalimat yg menyatakan bhw "Nabi Muhammad sebagai wasilah" .... ??
Idris Madjidi Cobalah baca terjemah ringkasan tafsir ibnu katsir oleh M Nasib ArRifai dan bandingkan dg kitab tafsir aslinya atau minimal yg telah Ahmad Nasyith tulis di atas, maka akan terlihat sebenarnya beda penafsiran di ayat 35 itu antara si peringkas dengan Ibnu Katsir.
Pada tulisan Nasyit itu tidak ada kalimat larangan menjadikan Nabi SAW sbg wasilah, tetapi di dlm terjemah ringkasan tafsir ibnu katsir oleh M Nasib ArRifai cetakan Gema Insani, termuat kalimat panjang berisikan larangan menjadikan Nabi SAW sbg wasilah.
Perbedaan penafsiran ini juga terdapat di ayat 64 An Nisa.
Jadi sebenarnya terdapat perbedaan substansi isi tafsir, bukan sekedar ringkasan
Ini mengingatkan pada kitab taurat dan injil yg karena terdapat beda pendapat dg pendapat rabbi dan pendeta yahudi nasrani, maka diubahlah kitab itu menjadi sesuai dg pendapat mereka, tetapi masih dikatakan itu adalah kitab taurat dan bibel.
Kalau berbeda pendapat, buatlah tafsir sendiri dengan judul tafsir al qur'an menurut M Nasib Ar Rifai misalnya.

Ibadah : Berdasar Dalil Yang Sahih Atau Berdasar Perintah Alloh SWT



Diskusi :

Ibadah : Berdasar Dalil Yang Sahih Atau Berdasar Perintah Alloh SWT?

Tulisan ini adalah diskusi yang berlangsung di Facebook grup Pengajian Al Islam Solo. Diskusinya cukup menarik dan silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri.

Idris Madjidi
Seorang teman mengatakan bhw beribadah kpd Alloh SWT harus ada dalilnya yg sahih, kalau tidak itu namanya bid'ah.
Teman yg lain menyampaikan bhw beribadah kpd Alloh itu mengikuti perintah Alloh SWT dan RasulNya SAW. bukan mengikuti perintah hawa nafsunya.

Ahmad Nasyith kalu rujuk pd hadits dlm kitab Tijan nya Mbh Ghozali, hadits no.125 disebutkan dlm hadits riwayat Nasai, Ibn Majah & Ahmad dari Jabir bin abdillah bhw " kulla muhdastatin bid'ah ". Jadi Bid'ah adalah setiap apa yg termasuk MUHDAST (bentuk jama' dari kata IHDAST).
Lalu dlm kitab yg sama pada hadits no. 182 riwayat Thabrani & Durat Mansur dari Ibn Abbas disebutkan bhw IHDAST fi ad-dien adalah idzaa 'amiluu bi ar-ra'yi (ketika melakukan amal dgn dasar ra'yu). Lalu Rasulullah menyampaikan bhw "laa ra'ya fi ad-dien" (tidak ada ra'yu dlm agama) sungguh agama itu adalah dari Allah, perintah Nya & larangan Nya.
Maka dlm ber-agama dgn agama Allah itu hanya ada DALIL NAQLI, sedangkan AQLI harus digunakan utk memahami DALIL NAQLI dgn senantiasa tunduk/rujuk sesuai dgn arahan & batasan yg diterangkan dlm petujuk Allah yg diajarkan Rasulullah. Jadi memakai AQLI bukan dgn cara semaunya sndiri dlm memahami NAQLI, apalagi sampai mensejajarkan antara NAQLI dgn AQLI dlm kapasitasnya sbg dalil dlm agama Allah.

Ahmad Nasyith jadi seorang abdi Allah itu ketika sholat menghadap ke ka'bah itu bukan krn mengikuti aql nya, tapi krn mengikuti dalil naqli. sedangkan menentukan arah yg tepat dari tempat sholat yg jauh ke titik ka'bah, maka si abdi Allah akan menggunakan aql nya agar tidak salah arah >>> jadi aql itu hanyalah sbg wasilah (alat) dlm memenuhi apa yg diperintah atau dilarang dlm dalil NAQLI.
Maka membuat golongan/kelompok sendiri-sendiri krn adanya beda pendapat ttg suatu perkara dlm mnegakkan agama Allah, berdasarkan AQL mrk yg mengatakan bhw akan lebih baik jalan masing2 dgn lembaganya masing2 yg beranggotakan orang2 yg sama visi & misinya, krn akan lebih solid dan fokus dlm mencapai tujuan. Yang penting masing2 lembaga bisa saling menghargai & menghormati dan jgn saling menyalahkan. >>>> padahal Allah jelas2 memerintah agar berjama'ah & tidak membuat pecahan2 (dgn berbagai model & bentuk pecahan) >>> yg begini inilah yg lebih mengikuti AQL drpada NAQL
mestinya AQL nya digunakan utk mencari solusi agar tetap bisa menegakkan agama Allah dgn tanpa harus jatuh kpd larangan Allah sehingga merusak JAMA'AH dgn membuat pecahan2.

Ahmad Nasyith bahkan mungkin ada juga yg ikut2an bikin kelompok/lembaga sendiri bukan krn adanya beda pendapat, tapi hanya krn keinginan diri utk punya kelompok dan jadi pemimpin yg disegani anggotanya.
wal iyaadu billaah.....

Idris Madjidi Saya kira dua pendapat itu benar. Tetapi pendapat bahwa setiap amal ibadah harus menggunakan dalil naqli adalah tafsir atau satu dari beberapa penerapan dari pendapat kedua.

Idris Madjidi Tidak setiap muslim memahami dalil naqli, krn keterbatasannya. Misal seorang muslimah menyusui anaknya, lebih sering karena nalurinya untuk mengasihi anaknya, dibandingkan krn dalil naqli untuk menyusui anaknya. Jadi ibu tadi sebenarnya sudah memenuhi perintah Alloh dan RasulNya yg melalui ilham di hatinya dan tanpa hawa nafsunya.

Ahmad Nasyith "naluri" utk menyusui itulah fitrah seoarang Ibu yg juga adalah bagian dari "kholqu" nya Allah. ( kholqu Allah = bada-a, shana'a, ja'ala, kholaqo, fathara ), tapi sampai pd pemahaman bhw hal itu adalah merupakan "fitrah" Allah pemilik al-qur'an dan krn pengkuan itu kmd dirinya mau "tunduk" (aslama wajhahu) kpd Allah pemilik al-qur'an, maka hal ini tidak merupakan output naluriyah tapi justru menjadi "ujian" bg setiap manusia utk mau mengakui Allah pemilik al-qur'an sbg Sang Pecipta fitrah tsb sebagimana yg telah diwahyukan oleh Allah melalui al-qur'an & penjelasan Rasulullah, atau justru malah "ingkar" (mengingkari wahyu Allah, al-qur'an dan Rasulullah) dan lebih memilih allah yg lain sesuai selera "naluri" nya.
Idris Madjidi Jadi yg penting adalah mengikuti perintah Alloh dan RasulNya bukan mengikuti hawa nafsunya, yg perintah itu bisa melalui Ibunya, Bapaknya, Gurunya dst. Mengetahui dalil dari perintah itu akan menjadikannya lebih sempurna.

Pertanyaan :

Apa dalilnya yang sahih bahwa beribadah kepada Alloh itu harus berdalil dengan dalil yang sahih?

Maulidan : Tasabbuh, Bid’ah atau Sunah Yang Baik?



Maulidan : Tasabbuh, Bid’ah atau Sunah Yang Baik?

Diskusi :

Tulisan ini adalah diskusi yang berlangsung di Facebook grup Pengajian Al Islam Solo. Diskusinya cukup menarik dan silahkan pembaca menyimpulkannya sendiri.

MAULIDAN, adalah perkara ibadah yg ghoir mahdhoh, krn memang kaifiyah acara maulidan tidak termasuk amal yg tauqifi. Jadi SALAH jika mengatakan bhw MAULIDAN adalah BID'AH

Tetapi jika acara MAULIDAN dilihat sbg sebuah bentuk amal tasammuh pd tradisi orang kafir (dari kalangan yahudi, nasrani, dll) yg membuat acara pd hari kelahiran dgn menjadikan yg bermilad menjadi sentral perhatian utk disanjung, diberi hadiah, disuruh potong kue,dll maka dgn tegaknya dalil larangan bertasammuh dan mengikuti millah yahudi & nasrani, otomatis acara MAULIDAN menjadi terlarang. Bukan krn BID'AH tetapi krn melanggar larangan tasammuh.

wallaahu a'lam.....

Ahmad Nasyith Kira2 kalu kemudian para muslimin membuat kreasi yg inovativ dlm hal maulidan, shg tidak lg jatuh pd perkara "tasabbuh" dan/atau bentuk pelanggaran lainya, apa ya bisa dibenarkan nggih...???

Ahmad Nasyith maaf, mestinya bukan "tasammuh", tapi TASABBUH

Idris Madjidi Belum tentu perbuatan suatu kaum yg mirip dg kaum lain itu adalah meniru kaum yg lain itu.
Contoh : sebagian orang jawa sekarang makan menggunakan sendok, dulu pakai tangan saja. apakah orang jawa meniru orang belanda yg lebih dulu makan menggunakan sendok?
sedangkan sunah nabi SAW, makan cukup menggunakan tangan saja, tiga jari saja kalau bisa. apakah orang jawa muslim yg makan menggunakan sendok itu tasabuh kpd kaum kafir dan itu salah?. saya kira tidak sekeras itu, cukup dikatakan makan pakai sendok tidak mengikuti sunah Nabi SAW.
Idris Madjidi Kaum Nasrani dan agama lain mengingat tuhan-tuhan mereka, kaum msulimin juga mengingat Alloh dan NabiNya. Hal itu tidak bisa dikatakan kaum muslimin tassabuh kpd kaum lain.
Kalau kaum muslimin mengingat kisah-kisah Nabi SAW dan kisah-kisah itu dituliskan dg bahasa yg indah (syair). Kemudian kisah-kisah itu dibacakan kepada khalayak sebagai peringatan, supaya ingat dan mencintai Nabinya. Itulah yg dikenal sebagai maulid Nabi SAW. Apakah mengingat kisah Nabi SAW (maulid) itu sesuatu yg salah?
Itu tidak salah. Bila ada hal-hal yg keliru dlm sekatenan dan maulid Nabi terjadi, maka yg keliru itulah yg tidak perlu dilaksanakan.

Ahmad Nasyith lha kalu maulidan, pripun Mas..? apa ya cukup dgn analogi kasus "sendok" itu, lalu sdh selamat dari "tasabbuh"

Ahmad Nasyith kalu dari analogi "mengingat" kisah2 para Nabi, tentunya kembali ke perkara status maulidan sbg ghoir mahdhoh, yg memang terbuka kaifiyahnya selama tidak menabrak larangan Allah & Rasulullah yg sdh "terang" dalilnya.

Idris Madjidi Tassabuh bila menuhankan Nabi sebagaimana mereka menuhankan Yesus. Kalau mengingat dan mencintai Nabi SAW itu adalah kewajiban ummat Islam.

Idris Madjidi Analogi sendok itu dulu saya dapat dari Pak Lik Solihan.

Ahmad Nasyith jgn2 perlu ada terminologi "tasabbuh mahdhoh" dan "tasabbuh ghoir mahdhoh"

Ahmad Nasyith kalu soal tasabbuh "sendok", maka secara perbuatan "memakai" sendok utk makan itu tidak menjadi "ciri khas" yg terkait perkara bentuk hubungan manusia dgn "sesuatu" yg menjadi "ilah" baginya.

Ahmad Nasyith kalu soal merayakan ulang tahun, setidaknya ada penuturan sbb :
Ulang tahun atau yang biasa disebut milad dalam bahasa arab pertama kali dimulai di Eropa. Peryaan ultah pada waktu itu dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan datang pada orang yang berulang tahun dan para tamu undangan seperti teman atau keluarga berdoa untuk mengusir roh jahat tersebut. Memberikan kado juga dipercaya dapat mengusir roh jahat tersebut. Merayakan ulang tahun sudah dilakuakan sejak dulu. Orang-orang jaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka, karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan musim. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya. Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu contohnya kue. Salah satu cerita mengatakan, dahulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun di atas kue. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan. Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan”. Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga. Ada juga mitos yang mengatakan bahwa ketika kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa kebahagiaan dan dengan meniup lilin-lilin yang ada diatas kue dalam satu tiupan dipercaya akan membawa nasib baik.

Ahmad Nasyith kalu soal amal "menulis" dan "membacakan tulisan", statusnya sperti sendok, jd tdk ada kaitanya dgn urusan terkait "ilah".
tapi kalu tentang materi yg ditulis, yg kemudian dibacakan, itu bisa terkena pelanggaran terkait larangan "ghuluu" atau malah sampai pd "kadzab"

Idris Madjidi Mungkin definisi mauludan dari Ahmad Nasyith, berbeda dengan definisi orang-orang yg suka menyelenggarakan mauludan. Tolong jelaskan oleh Nasyit apa itu definisi mauludan yg masuk dlm katagori tasabuh.

Idris Madjidi Kalau sekatenan di Solo itu sudah menjadi peristiwa budaya, yg dulunya sebagai media dakwah. saat masih kecil, saya nonton sekatenan yg isinya pasar, ombakbanyu, dremolem, brondong, dawet, gunungan. saya kok nggak lihat dakwahnya. mungkin waktu itu saya belum ngeh.
Betul para juru dakwab mestinya membuat inovasi dlm berdakwah sehingga umat menjadi lebih paham agama Islam.

Idris Madjidi Sebenarnya ada banyak tasyabuh yg lain, mis penggantian kalender hijriyah dg kalender masehi, penggantian huruf arab dg huruf latin sbg sistem utama, adopsi sistem perbangkan ribawi, adopsi sistem uang kertas fiat (fiat money), adopsi demokrasi liberal dll yg bisa dikatakan sbg adopsi millah kaum kafir dijadikan menjadi sebagian milah kaum muslimin. Adopsi ini yg lebih berbahaya secara fundamental bagi kaum muslimin, dibandingkan dg peringatan maulud, isra' mikraj, hijriyah dsb.
Kalau kita tanya tokoh-tokoh sistem ekonomi moneter, sistem demokrasi liberal dll maka mereka akan menjawab bhw sistem ekonomi moneter itu memang adopsi dari barat.
Tetapi kalau kita tanya ulama-ulama yg suka memperingati hijrah, maulud , isrok mikraj dll, mereka akan menjawab "tidak meniru kaum agama lain, juga tidak mendapat ide dari natalan dsb".
dan saya kira Sunan Kalijaga menyelenggarakan mauludan sekatenan itu untuk syiar Islam dan tidak meniru natalannya kaum nasrani, walaupun sekarang syiar Islam dlm mauludan sekatenan itu mungkin minim sekali..

29 Mar 2013

Hidup Manusia dan Pengelolaan Risikonya



Hidup Manusia dan Pengelolaan Risikonya

I. Mukadimah


QS Al Kahfi/18: 84-85
Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan sesuatu sebab (jalan), maka dia pun menempuh suatu sebab (jalan)”.

QS Yunus/10:39
 Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang dzalim itu”.

QS Ar Ruum/30:9
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku dzalim kepada diri sendiri”.

Setelah menyimak beberapa ayat di atas, kita dapat  menyimpulkan bahwa keberhasilan seorang manusia tergantung kepada, apakah manusia  tsb., memahami dan mengikuti atau menempuh sebab-sebab ataupun jalan-jalan  sehingga dia mencapai apa yang ditujunya. Kesimpulan ini juga berarti bahwa bila manusia tsb., mengikuti sebab/jalan yang menjadikan dirinya gagal maka dia akan menemukan kegagalan atau tidak berhasil mencapai tujuannya. Sebab-sebab kegagalan ini disebut dzalim atau tertutup (sadar atau tidak sadar). Dzalim bisa berarti mendustakan terhadap apa yang belum diketahuinya dengan sempurna, daan tidak berusaha mempelajari sejarah kegagalan manusia. Manusia tidak dibenarkan untuk menuduh bahwa Allah lah penyebab kegagalan itu, karena Allah yang bersifat ArRahman dan ArRahim, tidak pernah atau akan berbuat zalim kepada manusia.
Setiap manusia tentu menginginkan diri dan keluarganya berhasil dalam hidupnya. Keberhasilan ini diukur relatif terhadap tujuan hidupnya.
Untuk itulah manusia seharusnya
1.     Memahami dan menentukan tujuan hidupnya.
2.     Memahami dan menjalankan semua proses atau aktifitas atau amal perbuatan yang menjadikan tujuan hidupnya tercapai.
3.     Mengetahui, memahami dan mengatasi semua rintangan yang telah dan akan dihadapinya.
4.     Mengelola diri dan keluarganya sehingga tercapai tujuan hidupnya dengan istiqomah dengan jalan lurus yang telah dipahaminya denga  benar.

II. Mengetahui, Memahami dan Menentukan Tujuan Hidup

Sebagai manusia muslim yang beriman tentunya kita, menggunakan Al Qur’an sebagai acuan utama dalam memahami dan menentukan tujuan hidup kita.
Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an sbb :

QS adz-Dzaariyaat/51: 56 : 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Sebenarnya semua makhluk diperintah untuk menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tetapi karena Al Qur’an diberikan sebagai petunjuk terutama kepada manusia dan jin maka yang disebut dalam ayat tersebut di atas adalah manusia dan jin.

QS Shaad/38:26 :
”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Ayat tsb., walaupun menceritakan mengenai Nabi Daud AS, dapat diqiaskan kepada manusia mukmin, bahwa sesungguhnya mukmin itu agar menjadi khalifah di bumi. Menjadi khalifah berarti mengelola manusia bumi dengan adil dan tidak menuruti hawa nafsu. Hal itu berarti tidak menjadikan bumi sebagai acuan/tujuan hidup. Acuan/tujuan hidup manusia mukmin adalah beribadah kepada Allah SWT. Dunia (harta, anak, tahta, dsb.,) cukup dijadikan sebagai prasarana/sarana/kendaraaan untuk tercapainya hasilnya, yaitu tujuan hidup sebenarnya, yaitu ibadah untuk menuju alam akhirat. Tidak sedikit ulama menjadikan agama (tatacara beribadah untuk  menuju alam akhirat) sebagai kendaraan untuk mencapai dunianya.

QS Al Anbiya/21: 107

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

QS Al Fath/48 :29

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Nabi Muhammad di utus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, begitupun kaum mukmin yang bersama beliau bersifat kasih sayang. Jadi tugas hidup mukmin juga untuk menebar rakhmat untuk alam semesta.
Mengapa kaum muslim saat ini tidak menjadikan rakhmat di dunia, karena hidup kaum muslim tsb yang salah prosedur. Bila prosedur yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan Allah, maka yang akan terjadi adalah laknat untuk dunia.

QS Al Ahzab/33:72 :

”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah* kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh,”
(*Yang dimaksud dengan amanah di sini ialah tugas-tugas keagamaan)

Tugas-tugas keagamaan yang sangat berat tsb. jika dikerjakan sendiri, maka kegagalan yang akan didapat. Tetapi bila tugas tsb., dilaksanakan dengan berjamaah, maka peluang keberhasilannya akan lebih besar.

QS Al Maidah/5:105 :
”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


QS At Tahriim/66:6;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

QS Maryam/19 :71-72

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”.

QS Al Fajr 27-30

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Kesimpulan Awal

Setelah memperhatikan ayat-ayat tsb., dapat disimpulkan bahwa misi dan tujuan hidup manusia muslim-mukmin yang taat dan beriman kepada Allah SWT, antara lain :
a.      Beribadah kepada Allah, menurut aturan-aturan Nya.
b.     Melaksanakan amanah untuk beribadah kepada Allah, yang antara lain menjadi pemimpin-pengelola alam (pemimpin: diri sendiri, keluarga, atau suatu kaum) dan meneruskan perjuangan para nabi terutama Nabi Muhammad SAW, untuk menjadikan rahmat Allah mewujud di alam semesta ini.
c.      Memelihara diri dan keluarga dari api neraka dan kembali kepada kepada rahmat  Ar Rahim Allah SWT, yaitu diridhai-Nya dan masuklah ke dalam syurga-Nya.

 

III. Memahami Dan Menjalankan Semua Proses Untuk Mencapai Tujuannya


Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an sbb :

QS  Al Fatihah/1: 5-7

Hanya kepadaMu (Ya Alloh) kami menyembah dan hanya kepadaMu pada hakekatnya kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya mereka (para nabi, shidiqin, syuhada, sholihin) yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalannya mereka yang Engkau murkai, dan bukan jalannya mereka yang sesat.

QS: Al Baqarah/2 : 208

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut  langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu ". QS: Al Baqarah/2 : 208.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang Shiddiq ". QS. At Taubah/9 : 119.

"Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama sama orang-orang yang ruku". QS. 2/43.

QS. Ash Shaff/61: 10 – 12
-   Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?
-   (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
-   niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

QS Al Imran/3:103

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

QS Al ‘Ashr/103  :

 “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”

Dan banyak ayat lain...........

Sampai ke suatu akhir proses amal manusia :

QS Ar Ruum/30:57:

“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).".  “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang dzalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertobat lagi.”


Setelah memperhatikan ayat-ayat tsb., dapat disimpulkan bahwa proses yang dilakukan untuk mencapai tujuan manusia muslim yang beriman antara lain :
a.      Menjalankan Al-Islam secara keseluruhannya, dan tidak menuruti langkah-langkah setan. Yang dapat diartikan bahwa dalam setiap aktifitas kita, seharusnya kita selalu berpikir apakah setiap aktifitas tsb., berkaitan dengan dukungan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut Al Qur’an tsb., atau sebaliknya malah menggagalkannya. Jadi setiap aktifitas bisa dikategorikan :
-         Wajib, bila aktifitas diperlukan sebagai modal untuk mendukung tujuan hidup tsb,
-         Sunah, bila aktifitas diperlukan untuk menambah modal atau menutup kerugian dalam mendukung tujuan hidup tsb.,
-         Haram, bila aktifitas dilaksanakan hanya mengurangi  modal atau menambah kerugian dalam mendukung tujuan hidup tsb.,
-         Mubah, bila aktifitas dilaksanakan tidak mengurangi  modal atau tidak menambah kerugian dalam mendukung tujuan hidup tsb.  Dalam derajad manusia yang lebih tinggi, aktifitas mubah ini, berarti menyia-nyiakan modal waktu manusia yang sangat sedikit atau sangat terbatas.
b.     Berjamaah/berorganisasi dalam menjalankan kehidupan untuk beribadah,
-         dengan bekerja sama dalam beribadah/beraktifitas meniti jalan yang lurus,
-         saling mengingatkan dalam kebenaran dan sabar, supaya efektif dan tidak tersesat,
-         memahami dan berhati hati dalam beramal sholeh karena adanya rintangan-rintangan (antara lain adanya setan yang merintangi jalan)


IV. Memahami dan Mengatasi Semua Rintangan Yang Telah Dan Akan Dihadapinya dalam Rangka Mencapai Tujuan

    
Menurut Imam Ghozali dalam Kitab Minhajul Abidin, rintangan yang dihadapi manusia dalam beribadah kepada Allah SWT sbb :
  1. Dunia
  2. Manusia
  3. Setan
  4. Hawa nafsu


4.1. Dunia

QS Al Baqoroh/2: 86 :
“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”.
QS Al Baqoroh/2: 212 :
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.
QS Al Hadiid/57:20 :
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

4.2. Manusia


QS Al An’aam/6: 116 :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)*”.
(*Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak).

Ibnu Mas'ud r.a. menceritakan pula kepada Harits bin Umairah suatu hadis nabi :


"Jika umurmu panjang kelak akan tahu bahwa akan datang satu zaman dimana banyak ahli pidato tetapi sedikit orang yang alim. Dan banyak peminta sedikit pemberi, dan hawa nafsu mengalahkan ilmu. Ibnu Umairah bertanya, "Ya Rasulullah, kapan akan terjadi zaman itu?",  Rasulullah Saw. menjawab : "Yaitu jika salat tidak lagi menjadi pehatian, suap menyuap telah membudaya, dan agama telah dijual untuk kepentingan dunia. Maka, carilah keselamatan, carilah keselamatan!"

4.3. Setan

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Faathir/35: 6)
''Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).'' (QS Al-A'raf/7:16-17).
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS Al Baqarah/2:168).
“'Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.' (QS Ala'raf/7:27).

4.4. Hawa Nafsu


QS Al Furqon/25: 43

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

QS Al Jatsiah/45:23 :

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
1384]. Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

QS Asy Syuura/42:15 :
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)"

QS Al Qashas 50 :
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”
Menurut Imam Ghozali, mengelola hawa nafsu ini adalah yang paling sulit diantara rintangan-rintangan lain yang telah disebutkan di atas.

 

Kesimpulan Akhir

Memahami tujuan hidup menjadi kewajiban setiap manusia yang beriman. Manusia yang beriman diwajibkan menjalankan aktifitas yaitu beramal sholeh (a.l. Sholat, puasa, zakat, haji dsb.) untuk mencapai derajad ketaqwaan.  Untuk mencapai derajad taqwa banyak rintangan dan cobaan yang akan dihadapi.
Rintangan-rintangan berupa dunia, manusia, setan, hawa nafsu dan lain-lain rintangan tsb., dapat menimbulkan risiko pada diri manusia sehingga manusia menyimpang dari tujuannya semula.
Kita, sebagai manusia yang beriman, seharusnya memahami semua rintangan kita, sehingga kita mengetahui cara untuk mengatasi dan mengelola diri kita dalam menjalankan semua aktifitas kita di dunia maupun di alam barzah.
Kemudian untuk mencapai tujuan hidup kita yang hakiki secara efektif kita menggunakan metoda-metoda yang kita pelajari dari berbagai sumber yang haq : Al Qur’an, Al Hadist, Ulama pewaris Nabi yang bisa menjelaskan perintah Alloh dan RasulNya secara sahih. dsb.

Bandung, 24 Ramadhan 1427 H / 16 Oktober 2006
Idris Madjidi

Berbaik Sangkalah kepada Alloh SWT dan Janganlah Berburuk Sangka Kepada Nya



Berbaik Sangkalah kepada Alloh SWT

dan Janganlah Berburuk Sangka Kepada Nya


Diantara yang mengaku  muslim, ada yang mempunyai pendapat  (yang salah) bahwa semua keburukan dan bencana yang  membuat sengsara umat manusia itu adalah kehendak Alloh SWT.
Tanpa disadarinya, sebenarnya mereka itu telah berprasangka buruk kepada Alloh SWT.
Ini merupakan bentuk kekurang sempurnaan keimanan kepada Alloh SWT yang mempunyai nama-nama yang baik (Asma’ul Husna). 
Prasangka buruk  itu terjadi disebabkan kekurang dalamnya pengetahuannya mengenai Qadha’ dan Qadar yang merupakan satu dari enam Kerangka Dasar Iman (rukun iman). Ini terjadi disebabkan bisikan setan kepada  manusia dan jin supaya selalu berburuk sangka kepada Alloh. Setan akan menjadikannya rusak ketauhidannya kepada Alloh SWT dan pada akhirnya akan menjerumuskannya ke dalam neraka  sebagai teman di akhirat nanti.

Untuk itu Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya yang berjudul “Syifa’ul ‘Alif Fii Masaailii Qodlo Wal Qodar Wal Hikmah Wal Ta’lil”,  yang telah diterjemahkan menjadi berjudul  “Rahasia Takdir ( Suatu Ketetapan)”, menerangkan secara gamblang  bahwa  :
Jika dikatakan bahwa Alloh itu menghendaki keburukan, maka yang demikian itu diartikan bahwa Dia menyukai dan meridhai. Dan jika dikatakan bahwa Dia tidak menghendaki keburukan, maka yang demikian itu diartikan bahwa Dia tidak menciptakannya. Kedua hal tersebut terakhir adalah salah dan menyimpang.
Oleh karena itu, jika dikatakan, "Keburukan itu termasuk perbuatan Alloh", atau "Alloh itu juga berbuat keburukan". Maka yang demikian itu benar-benar salah dan sesat. Dan itu mustahil bagi Alloh Ta'ala.
Yang benar dan tepat mengenai masalah ini adalah seperti yang diisyaratkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, yaitu bahwa keburukan dan kejahatan itu sama sekali tidak diidhafahkan kepada Alloh Azza wa Jalla, baik dalam hal sifat maupun perbuatan. Dan tidak boleh pula digunakan dalam penyebutan nama-Nya. Melainkan keburukan itu termasuk dalam objek dari hasil ciptaan­ Nya secara umum.
Dari sifat dan perbuatan Alloh SWT, diambilkan nama­-nama-Nya, yang tidak diambilkan dari makhluk ciptaan­Nya. Dan setiap nama-Nya diambilkan dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya atau perbuatan yang dilakukan-Nya.. Dan jika diambilkan nama bagi-Nya dari makhluk ciptaan-Nya, niscaya akan muncul nama seperti mutaharrik (yang bergerak), saakinan (yang diam), thawil (yang panjang), abjadh ( putih) dan nama-nama lainnya.
Dengan demikian, Alloh Azza wa Jalla tidak rnensifati dirinya dengan makhluk ciptaan-Nya yang terpisah dari diri Nya dan tidak juga memberi nama pada diri-Nya sendiri dengannya. Oleh karena itu, ungkapan  bahwa Alloh Ta'ala berbuat adil dengan keadilan makhluk yang terpisah dari­-Nya atau berbicara dengan ucapan makhluk yang terpisah dari-Nya, merupakan ungkapan salah dan menyesatkan, baik menurut logika, dalil naqli, maupun menurut tata bahasa.

Lebih lanjut Ibnu Qoyyim menerangkan dalam kitabnya itu sebagai berikut :

Bab 1.

Iman Kepada Qadha’ dan Qadar Merupakan Kerangka Dasar Iman

Sebagai orang yang beriman kita harus mema­hami bahwa takdir itu sama sekali tidak mengandung suatu hal yang buruk, bagaimanapun bentuknya. Karena hal itu didasarkan pada ilmu, qudrah, ketentuan dan dan kehendak Alloh SWT.. Bila kita telaah justru takdir mengandung kebaikan dan kesempurnaan murni. Keburukan dan kejahatan, apapun bentuknya sama sekali tidak dapat dinisbatkan kepada Alloh SWT, baik terhadap dzat, sifat, perbuatan maupun asma'Nya.
Sebenarnya keburukan itu hanya terdapat pada objek takdir itu sendiri. Namun keburukan itu hanya bagian kecil saja, dan bagian besar lainnya adalah kebaikan. Misalnya, hukuman qishash dan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Pada satu sisi tertentu, bagi mereka, qishash dan hukuman mati bagi orang-orang kafir itu merupakan keburukan, namun baik bagi orang lain, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan yang besar dan perlindungan sebagian manusia atas sebagian lainnya.
Demikian halnya dengan penderitaan dan juga penya­kit , meskipun pada satu sisi mengandung keburukan, namun pada sisi yang lain banyak mengandung kebaikan.
Jadi, kebaikan dan keburukan itu satu jenis dengan kenikmatan dan penderitaan, manfaat dan madharat.
Keburukan itu terletak pada orang yang menjalani takdir dan bukan pada sifat dan perbuatan Alloh Tabaraka wa ta'ala. Jadi, jika tangan seorang pencuri dipotong, maka keburukan, penderitaan dan bahayanya terletak pada diri si pencuri itu sendiri. Sedangkan qodha' dan qadar-Nya merupakan suatu hal yang adil, baik, penuh hikmah dan maslahah.
Jadi jika ditanya, apa perbedaan antara takdir yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit?. Maka yang demikian itu dapat dijawab bahwa yang manis dan yang pahit itu berpulang kepada sebab sebelum takdir itu terjadi. Sedangkan kebaikan dan keburukan itu kembali kepada baik dan buruknya akibat. Dengan demikian, hal itu akan manis atau pahit pada perniulaannya, dan akan baik atau buruk pada akhirnya.
Alloh Azza wa Jalla telah memberlakukan sunnah dan aturan-Nya bahwa rasa manis berbagai sarana di awal akan mengakibatkan rasa pahit di akhir. Sebaliknya, rasa pahit  diawal akan  mengakibatkan rasa  manis di akhir. Jadi manisnya dunia merupakan pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia merupakan manisnya akhirat.
Selain itu, hikmah Alloh Azza wa Jalla menetapkan bahwa kenikmatan itu akan membuahkan penderitaan, dan penderitaan itu membuahkan kenikmatan. Qadha dan qadar mempunyai sistem dan pola yang sama dengan itu.

Keburukan itu kembali kepada kenikmatan dan berbagai macam faktornya. Kebaikan yang diharapkan adalah kenikmatan yang abadi. Sedangkan keburukan yang sangat dibenci adalah penderitaan yang abadi pula.


Bab 2.

Berprasangka Kepada Alloh Menghendaki Berbuat Keburukan Tidak Dibolehkan

Ada suatu yang diperselisihkan oleh orang banyak, bahwa ada sekelompok orang yang mengakui adanya takdir dan ada orang-orang yang tidak mengakui adanya takdir. Kelompok terakhir ini mengatakan,
"Tidak diperbolehkan bagi manusia mengatakan bahwa Alloh SWT. menghendaki keburukan, atau mengerjakannya. Dan yang melakukan keburukan itu disebut sebagai pelaku keburukan".
Seperti halnya orang yang zalim disebut sebagi pelaku kezaliman, orang jahat disebut sebagai pelaku kejahatan. Alloh SWT terlepas dari semuanya itu. Tidak ada sifat dan nama-Nya yang mengandung keburukan sama sekali, karena semua nama­Nya adalah husna (baik). Demikian halnya dengan semua perhuatan-Nya adalah baik. Sehingga suatu hal yang mustahil jika ia menghendaki keburukan dan kejahatan. Keburukan dan kejahatan itu bukan sebagai kehendak dan perbuatan-Nya.
Pendapat orang-orang tersebut di atas tadi ditentang oleh paham Jabariyah, di mana paham ini mengatakan sebaliknya,
“Alloh Ta'ala itu menghendaki dan berbuat keburukan. Karena keburukan itu ada, sehingga sudah pasti  ada penciptanya. Dan tidak ada pencipta kecuali Alloh Azza wa Jalla. Dan Dia menciptakan semua makhluk-Nya ini berdasarkan iradah-Nya. Dengan demikian, setiap makhluk itu merupakan kehendak-Nya dan is merupakan perbuatan-Nya".
Pendapat mereka itu didukung oleh pendukungnya bahwa perbuatan itu adalah objek perbuatan itu sendiri, dan penciptaan itu tidak lain adalah makhluk itu sendiri.
Seterusnya mereka mengatakan,
"Keburukan adalah ciptaan sekaligus sebagai objek penciptaan, dan hal itu jelas merupakan perbuatan dan penciptaan-Nya, bahkan terjadi berdasarkan kehendak-Nya”.
Selain itu mereka pun mengatakan,
"Tidak dikatakan­nya Tuhan itu menghendaki dan berbuat itu hanya sebatas sebagai etika semata, sebagaimana secara etis tidak boleh disebut bahwa Alloh itu sebagai Tuhannya anjing dan babi. Tetapi boleh disebut sebagai Tuhan dan pencipta segala sesuatu”
Mereka juga mengatakan,
"Ungkapan anda bahwa orang jahat adalah orang yang menghendaki dan melakukan kejahatan”. Maka mengenai hal itu dapat dijawab melalui dua sisi.
Pertama, letak permasalahnnya adalah bahwa orang jahat adalah orang yang melakukan kejahatan itu sendiri. Sedangkan dzat Alloh Ta'ala tidak melakukan kejahatan, karena semua perbuatan-Nya tidak berupa aksi dan gerakan dari-Nya, melainkan ia terjadi melalui penciptaan.  Dan darinya pula diambil beberapa sebutan, misalnya al-fajir  (yang berbuat jahat), al-fasiq (yang berbuat ke fasikan), al-mushalli (orang yang mengejakan shalat),  al-haj (yang mengerjakan ibadah haji), al-shaaim (orang berpuasa), dan lain-lain yang semisal.
Kedua, bahwa nama-nama Alloh SWT itu bersifat tauqiyah. Dia tidak menyebut dirinya dengan sebutan­-sebutan yang baik"

Kata iradah dapat diartikan sebagai kehendak dan juga cinta dan keridhaan.

Iradah dalam pengertian kehendak adalah seperti yang terdapat dalam firman Alloh SWT. berikut ini:
Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Alloh hendak menyesatkan kamu*), Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan".(Tafsir QS Huud/11 : 34).
Demikian juga dengan firman-Nya :
"Barangsiapa yang Alloh menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Alloh kesesatannya*) niscaya Alloh menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Alloh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman" (Tafsir QS Al-An'am/6 125).

Firman-Nya yang lain:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri*), maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Tafsir QS Al-Isra'/17 : 16).

Dan juga firman-Nya ini:
“Dan Alloh hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (Tafsir QS An-Nisa' /4:27).

*) Kalimat-kalimat yang diartikan Alloh mengehendaki keburukan itu semuanya adalah kalimat pengandaian (jika kami, barang siapa, sekiranya, dsb.). Ini menunjukkan bahwa Alah hanya akan menjadikan adzab bagi siapa saja yang menyalahi hukumnya.

Serta firman-Nya yang lain:
"Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian" (Al-Baqarah 185).

Iradah dengan pengertian di atas tidak mengharuskan terjadinya objek kehendak, tidak pula mengharuskan kecintaan dan keridhaan-Nya padanya.

Kedua, iradah dalam pengertian yang tidak mengharus­kan terjadinya objek kehendak, tetapi mengharus­kan kecintaan dan keridhaan Alloh Ta'ala padanya. Iradah dalam pengertian ini tidak terbagi-bagi, tetapi semua yang menjadi kehendak-Nya sudah pasti dicintai dan disukai­-Nya.
Terdapat perbedaan antara iradah dari semua perbuatan­Nya dan iradah dari objek perbuatan-Nya. Semua iradah dari perbuatan-Nya itu baik, adil penuh kemaslahatan dan himah, tanpa sedikit pun keburukan didalamnya. Sedangkan iradah yang kedua masih terdapat beberapa bagian. Sebagaimana yang telah menjadi pendapat ahlussunnah bahwa perbuatan itu berbeda dengan objeknya, dan penciptaan juga berbeda dengan objeknya.
Yang demikian itu sudah sangat logis, dapat diterima oleh  akal pikiran sehat, fitrah, dan tata bahasa, dalil Al-Qur'an, hadist dan ijma' para ulama. Sebagaimana yang diceritakan Al-Baghawi dalam bukunya, Syarhu al Sunnah
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka di sini terdapat dua iradah (kehendak) dan dua muradah (yang menjadi sasaran perbuatan), yaitu:
Pertama, iradah untuk berbuat dan muradahnya adalah perbuatan Alloh Ta'ala.
Kedua, iradah Alloh untuk menjadikan hamba-Nya berbuat, dan yang menjadi muradahnya adalah objek dari perbuatan tersebut.
Namun yang demikian itu bukan suatu keharusan. Terkadang Dia menghendaki hamba-Nya berbuat sedang Dia tidak menghendaki untuk membantunya berbuat. Sebagaimana Dia pernah menghendaki Iblis bersujud kcpada Adam, namun demikian Dia tidak menghendaki diri-Nya untuk membantu Iblis supaya dapat bersujud. Padahal, kalau saja Dia menghendaki untuk membantunya, niscaya Iblis itu pasti akan bersujud kepada Adam dan tidak mungkin tidak.
Sedangkan firman Alloh Azza wa Jalla: "Alloh maha kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki". (Al-Buruj:16).
Yang demikian itu merupakan pemberitahuan dari-Nya mengenai iradah untuk perbuatan-Nya dan bukan untuk hamba-hamba-Nya. Bukankah perbuatan dan kehendak itu hanya terbagi menjadi baik dan buruk?
Berdasarkan hal di atas, jika dikatakan bahwa Dia itu menghendaki keburukan, maka yang demikian itu diartikan bahwa Dia menyukai dan meridhai. Dan jika dikatakan bahwa Dia tidak menghendaki keburukan, maka yang demikian itu diartikan bahwa Dia tidak menciptakannya. Kedua hal tersebut terakhir adalah salah dan menyimpang.
Oleh karena itu, jika dikatakan, "Keburukan itu termasuk perbuatan Alloh", atau "Alloh itu juga berbuat keburukan". Maka yang demikian itu benar-benar salah dan sesat. Dan itu mustahil bagi Alloh Ta'ala.
Yang benar dan tepat mengenai masalah ini adalah seperti yang diisyaratkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, yaitu bahwa keburukan dan kejahatan itu sama sekali tidak diidhafahkan kepada Alloh Azza wa Jalla, baik dalam hal sifat maupun perbuatan. Dan tidak boleh pula digunakan dalam penyebutan nama-Nya. Melainkan keburukan itu termasuk dalam objek dari hasil ciptaan­ Nya secara umum.
Dari sifat dan perbuatan Alloh SWT, diambilkan nama­-nama-Nya, yang tidak diambilkan dari makhluk ciptaan­Nya. Dan setiap nama-Nya diambilkan dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya atau perbuatan yang dilakukan-Nya.. Dan jika diambilkan nama bagi-Nya dari makhluk ciptaan-Nya, niscaya akan muncul nama seperti mutaharrik (yang bergerak), saakinan (yang diam), thawil (yang panjang), abjadh ( putih) dan nama-nama lainnya.
Dengan demikian, Alloh Azza wa Jalla tidak rnensifati dirinya dengan makhluk ciptaan-Nya yang terpisah dari diri Nya dan tidak juga memberi nama pada diri-Nya sendiri dengannya. Oleh karena itu, ungkapan  bahwa Alloh Ta'ala berbuat adil dengan keadilan makhluk yang terpisah dari­-Nya atau berbicara dengan ucapan makhluk yang terpisah dari-Nya, merupakan ungkapan salah dan menyesatkan, baik menurut logika, dalil naqli, maupun menurut tata bahasa.
Nama-nama Alloh SWT. itu syarat dengan makna dan scmuanya adalah baik, tidak ada satupun nama-Nya yang buruk. Berkenaan dengan hal itu, Dia telah berfirman di dalam sebuah ayat:
"Hanya milik Alloh Asma’ul Husna. Maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma'ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Al-A'raf : 180)
Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW telah menunjukkan ketetapan sumber-sumber nama-nama Alloh Ta'ala tersebut. Misalnya adalah firman-Nya yang berikut ini : 
"Bahwa semua kekuatan itu hanya milik Alloh" (Al-Bagarah : 165),
Firman-Nya yang lain:
"Sesungguhnya Alloh Dialah al-Razzaq (Maha Pemberi rezeki) yang mempunyai kekuatan Al-Matin (yang sangat kokoh)" (Al-Dzariyat 58).
Dan juga firman-Nya:
"Ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Alloh, dan bahwasannya tiada Tuhan selain Dia" (Huud 14).
Serta ucapan Aisyah ra., "Segala puji bagi Alloh yang pendengaran-Nya menjangkau semua suara".
Juga sabda Rasulullah SAW  berikut ini:
"Ya Alloh aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dan siksaan-Mu  dan aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu, Aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau  adalah seperti pujian-Mu diri-Mu sendiri".
Dalam buku Shahihain diriwayatkan sebuah hadits bahwa RasulAlloh SAW setiap kali selesai mengerjakan shalat senantiasa mengucapkan:
"Tiada tuhan selain Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya semua kerajaan dan semua puji-pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Alloh, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi kepada apa yang Engkau cegah"
Selain itu, masih ada sabda Rasulullah SAW. yang lain:
"Aku berlindung kepada keperkasaan-Mu supaya tidak Engkau sesatkan".

Kalau tidak ada sumber-sumber, niscaya hilanglah hakikat dari nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan­-perbuatan Alloh Ta'ala tersebut. Perlu diketahui, bahwa perbuatan Alloh Ta'ala itu bukanlah sifat-Nya, dan sifat­Nya bukanlah nama-Nya dan bukan pula perbuatan-Nya.
----------------------
Disalin  dari buku karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Syifa’ul ‘Alif Fii Masaailii Qodlo Wal Qodar Wal Hikmah Wal Ta’lil”,  yang diterjemahkan menjadi berjudul  “Rahasia Takdir ( Suatu Ketetapan)”.